

Sejumlah warganet menilai insiden ini mencerminkan persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana etika berbisnis kerap diabaikan demi meraih sensasi viral.
Semestinya nilai-nilai kesucian agama dijunjung tinggi oleh setiap pihak, alih-alih menjadi bahan gimik murahan di ruang publik digital maupun offline.
Perdetik ini masyarakat menanti sikap dan tindak lanjut nyata dari pihak-pihak berwenang terkait insiden ini.
Mengingat promosi berkedok ibadah ini turut menyeret nama besar penyelenggara festival musik ke dalam sorotan tajam atas kelalaian pengawasan di lapangan.
Peristiwa inilah yang menjadi pengingat betapa strategi pemasaran yang serampangan dapat berubah menjadi bumerang yang tak terduga.
Terlebih bagi brand yang semestinya menjunjung tinggi nilai moral dalam menjalankan aktivitas promosinya.
Di tengah upaya menjaga keharmonisan, kehadiran challenge semacam ini justru menambah luka baru bagi umat yang sesungguhnya berharap agamanya dihormati, bukan malah dijadikan alat promosi minuman keras