

inNalar.com – Laporan Swiss Pastoral Sociological Institute (SPI) atau RKZ mengungkap tingginya kasus pembatalan keanggotaan gereja di Swiss. Hingga akhir tahun 2023, warga berbondong-bondong pilih murtad mencetak rekor dengan total lebih dari 100.000 orang meninggalkan agama mereka.
Sekretaris Jenderal Konferensi Pusat Katolik Roma Swiss Urs Brosi mengatakan, dari ratusan ribu eksodus tersebut, sebanyak 67.497 orang tercatat meninggalkan Gereja Katolik pada 2023.
Angka ini melonjak nyaris 100 persen dibandingkan tahun 2022 yang sebanyak 34.561 orang.
Sementara itu, sekitar 40.000 warga meninggalkan Gereja Protestan atau Reformed Church pada periode yang sama.
“Gelombang pengunduran diri yang eksplosif ini adalah sebuah peringatan serius dari umat awam agar kita segera berubah,” ujar Urs Brosi menanggapi rekor puluhan ribu umat yang memilih murtad tersebut.
Persebaran data menunjukkan faktor finansial menjadi pendorong utama banyak orang memutuskan murtad.
“Pajak gereja atau Kirchensteuer yang bervariasi antara 1 hingga 3 persen di tingkat kanton (provinsi) membuat warga merasa terbebani,” ungkap catatan laporan tersebut.
Berdasarkan laporannya, kanton dengan sistem pajak gereja opsional bagi individu mencatat tingkat pengunduran diri tertinggi. Wilayah dengan kasus murtad terbanyak ini meliputi kanton Basel-Stadt, kanton Aargau, hingga wilayah Solothurn.
Urs Brosi mengatakan tingginya eksodus ini membuat penanganannya menjadi tantangan besar bagi otoritas dan seluruh pemangku kepentingan.
Salah satu persoalan utama adalah tren murtad yang juga dipicu oleh skandal tersembunyi yang akhirnya terbongkar.
“Pada September 2023, Universitas Zurich merilis laporan investigasi independen yang mengungkap lebih dari 1.002 kasus pelecehan seksual di lingkungan Gereja Katolik Swiss yang terjadi sejak pertengahan abad ke-20,” tutur laporan independen tersebut.
Menurut Presiden Konferensi Uskup Swiss Uskup Felix Gmür, tingginya angka tersebut menunjukkan eskalasi krisis kepercayaan di tengah masyarakat.
Persoalan semakin rumit karena skandal masa lalu tersebut menggerus sisa kepercayaan umat terhadap otoritas gereja, memicu warga pilih murtad secara massal.
“Gereja terus menyusut. Sayangnya, ini adalah tren yang tidak dapat dihentikan,” tegasnya.
Pola demografi di Swiss kini semakin berubah kompleks akibat banyaknya warga murtad.
Berdasarkan data Kantor Statistik Federal Swiss (FSO/BfS) awal 2024, populasi ateis, agnostik, atau kelompok tidak berafiliasi dengan agama (nones) pada tahun 2022 mencapai rekor tertinggi.
“Untuk pertama kalinya dalam sejarah Swiss, kelompok non-religius mencapai 34 persen, melampaui pemeluk Katolik di angka 32 persen dan Protestan sebesar 21 persen. Kondisi ini menuntut gereja menghadapi tantangan berat di masa depan,” pungkas Gmür.