

inNalar.com – Mencemari lingkungan sama halnya dengan merakit bom waktu, yang setiap saat dapat menghapus nikmatmu.
Problematika pencemaran lingkungan nampaknya sudah tidak asing di telinga kita, terlebih lagi permasalahan sampah yang semakin hari kian menjadi sorotan.
Persoalan sampah, terutama plastik masih menjadi masalah serius yang harus segera diatasi oleh negara-negara berkembang, dimana negara memiliki “beban” tumpukan sampah yang cukup besar, seperti halnya di negara kita. Salah satu solusi diet sampah plastik adalah dengan menerapkan ecobrick.
Baca Juga: Kilas Ramadhan 2022, Berikut Ini Kisah Perpindahan Arah Kiblat pada 15 Sya’ban Tahun 12 Hijriyah
Ecobrick adalah botol plastik berisikan sampah-sampah padat non-biologis solid yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan.
Ecobrick juga dapat diartikan sebagai bata yang terbuat dari bahan dasar sampah botol plastik, sachet/plastik kemasan yang kaku, serta kantong plastik yang lembut.
Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Russel Maier asal Kanada, kemudian dikembangkan dengan istrinya yang merupakan seorang WNI bernama Ani Himawati.
Plastik yang selama ini dibuang percuma atau didaur ulang sebenarnya adalah material yang sempurna untuk pembuatan ecobrick.
Ecobrick “bekerja” dengan cara mengelola sampah plastik menjadi bahan baku pembuatan batu bata dan furniture yang ramah lingkungan.
Output dari ecobricks ini dapat dimanfaatkan menjadi meja, kursi, tangga, lemari, hingga bahan bangunan.
Ecobrick merupakan langkah yang dinilai efektif untuk mengurangi sampah karena materi plastik yang digunakan cukup banyak dan produk yang dihasilkan pun memiliki dua nilai sekaligus, yaitu nilai estetika (keindahan) dan utility (kegunaan).
Selain bahan baku pembuatannya yang murah dan mudah ditemukan, pembuatan ecobrick tidak memerlukan mesin canggih dan keterampilan tertentu, sehingga dirasa semua orang bisa membuatnya.
Cara pembuatannya cukup mudah, berikut ini merupakan step-step pembuatannya :
1. Siapkan sampah bersih yang terdiri dari botol plastik, plastik lunak, plastik kemasan makanan atau minuman (sachet).
2. Bersihkan sisa makanan, minuman, dan sampah organik lainnya yang masih tertinggal di plastik.
3.Gunakan kantong plastik (kresek) sebagai dasar botol, kantong plastik tersebut akan menentukan warna dasar botol sehingga dihasilkan komposisi yang indah saat dirangkai sebagai produk furniture atau bata.
4. Potonglah sampah sachet/ plastik kemasan yang keras dan kaku menjadi kecil. Bentuk potongan bisa teratur maupun tidak teratur disesuaikan dengan hasil akhir bata yang diinginkan.
Beberapa alternatif potongan bisa berbentuk segitiga kecil, kotak kecil atau potongan kawul. Semakin kecil potongan tentunya akan memudahkan untuk mendapat berat yang tinggi, karena sampah yang dipotong kecil akan mengisi botol lebih efektif dan merata
Baca Juga: Kabar Duka Datang dari Baby Margaretha, Sang Suami Christian Bradach Meninggal Dunia
5. Gunakan stick atau tongkat kayu dengan ujung yang sedikit mengerucut untuk mendesak sampah sampai kedasar botol. Sehingga didapatkan bata yang padat merata dan keras di semua bagian
6. Isilah botol hingga penuh dan padat, namun perhatikan pengisian botol jangan terlalu penuh, agar tutup botol tidak menggembung dan rusak
7. Setelah jumlah botol cukup banyak, sambung botol menggunakan lem kaca berbahan silikon atau semen organik untuk merangkai ecobrick
8. Bentuklah sesuai kebutuhan dan keinginan.
Membuat ecobrick lebih dari sekedar teknik, namun ecobrick juga sebuah gerakan bersama untuk merawat bumi. Ecobrick dapat menghambat produksi polusi dan dapat digunakan sebagai pelopor gaya hidup sehat. Yuk coba! dan jadilah pahlawan untuk bumi***