Penyebab gempa besar ini diketahui akibat pergerakan sesar naik (thrust fault) yang dipicu oleh aktivitas Sesar Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust).
Titik episenter gempa berkedalaman dangkal 15 km ini berada di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan (LS) dan 121,39 Bujur Timur (BT), tepatnya 30 km arah timur laut dari Nagekeo.
Guncangan gempa terasa sangat kuat mencapai Skala VI MMI di Wolowae (Kabupaten Nagekeo) dan Kota Bajawa, membuat getaran kuat hingga penduduk berlari keluar.
Sementara itu, guncangan dengan Skala V MMI dirasakan di Kota Ende, Kota Borong, dan Kota Ruteng, yang mampu membangunkan orang tidur dan terasa oleh hampir semua penduduk.
Sebagai bentuk respons cepat, pemerintah pusat dipastikan akan turun tangan mendistribusikan bantuan nasional.
Presiden Prabowo Subianto dilaporkan akan mengirimkan 50.000 paket sembako untuk disalurkan kepada para korban terdampak.
BMKG juga sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk 10 daerah sesaat setelah gempa utama terjadi, namun peringatan tersebut diakhiri pada pukul 07.30 WIB.
Titik gelombang tsunami tertinggi tercatat di Maurole-Ende mencapai 0,94 meter pada pukul 05.27 WIB, dan di Bulukumba, Sulsel setinggi 0,54 meter pada pukul 05.58 WIB.
Gelombang pasang juga menerjang Pelabuhan Kewapante-Sikka setinggi 0,38 meter (pukul 05.16 WIB), Labuan Bajo 0,36 meter (pukul 05.26 WIB), dan Baubau di Sultra 0,30 meter (pukul 05.47 WIB).
Ketinggian air laut lainnya tercatat di Flores Timur setinggi 0,25 meter, Kolaka Sultra 0,23 meter, Sikka 0,20 meter, Dompu 0,17 meter, serta Bakalang-Alor 0,14 meter.
Terkait pencabutan peringatan, Dr. Nelly Florida Riama memastikan bahwa potensi bahaya dari gelombang pasang tersebut telah sepenuhnya berlalu.
“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” tegasnya.