inNalar.com – Nusa Tenggara Timur (NTT) masih dilanda rentetan gempa susulan setelah gempa besar m7,7 yang mengguncang kawasan Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada Sabtu (15/8/2026) pagi.
Hingga Rabu (19/8/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat total 3.002 gempa susulan, sementara peringatan tsunami yang sempat dikeluarkan telah resmi diakhiri.
Gempa utama bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo menewaskan puluhan jiwa yang tersebar di sejumlah kabupaten di Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB.
Bencana tersebut juga menyebabkan kerusakan infrastruktur, termasuk robohnya tembok rumah sederhana di Maumere, Manggarai Barat, dan Labuan Bajo, serta kerusakan pada fasilitas Pelabuhan Maumere dan Hotel Jayakarta Bajo.
“Tim BMKG mulai hari ini diterjunkan langsung ke lokasi terdampak untuk melakukan survei kerusakan secara menyeluruh,” kata Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu.
Pemerintah melalui BMKG menyatakan lebih dari tiga ribu gempa susulan telah terjadi dengan skala bervariasi antara M1,1 hingga M6,2.
Sebanyak 86 gempa susulan di antaranya dilaporkan dirasakan langsung oleh warga di wilayah terdampak.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Dr. Nelly Florida Riama, mengatakan ada puluhan gempa susulan yang memiliki kekuatan cukup besar.
“Dan terdapat 25 kejadian (gempa susulan) dengan magnitude 5,0 atau lebih,” ujarnya.
Meski demikian, aktivitas gempa susulan saat ini menunjukkan tren menurun atau mengalami peluruhan.
Kondisi kegempaan diprediksi akan mencapai tingkat rendah dalam 21 hingga 30 hari ke depan, atau sekitar akhir September 2026.
“Namun, perlu kami tegaskan juga, ini bukan berarti setelah tanggal tersebut gempa tidak dapat terjadi,” tambah Nelly.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi mengenai prediksi waktu dan magnitudo gempa berikutnya yang tidak berasal dari sumber resmi.
Penyebab gempa besar ini diketahui akibat pergerakan sesar naik (thrust fault) yang dipicu oleh aktivitas Sesar Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust).
Titik episenter gempa berkedalaman dangkal 15 km ini berada di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan (LS) dan 121,39 Bujur Timur (BT), tepatnya 30 km arah timur laut dari Nagekeo.
Guncangan gempa terasa sangat kuat mencapai Skala VI MMI di Wolowae (Kabupaten Nagekeo) dan Kota Bajawa, membuat getaran kuat hingga penduduk berlari keluar.
Sementara itu, guncangan dengan Skala V MMI dirasakan di Kota Ende, Kota Borong, dan Kota Ruteng, yang mampu membangunkan orang tidur dan terasa oleh hampir semua penduduk.
Sebagai bentuk respons cepat, pemerintah pusat dipastikan akan turun tangan mendistribusikan bantuan nasional.
Presiden Prabowo Subianto dilaporkan akan mengirimkan 50.000 paket sembako untuk disalurkan kepada para korban terdampak.
BMKG juga sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk 10 daerah sesaat setelah gempa utama terjadi, namun peringatan tersebut diakhiri pada pukul 07.30 WIB.
Titik gelombang tsunami tertinggi tercatat di Maurole-Ende mencapai 0,94 meter pada pukul 05.27 WIB, dan di Bulukumba, Sulsel setinggi 0,54 meter pada pukul 05.58 WIB.
Gelombang pasang juga menerjang Pelabuhan Kewapante-Sikka setinggi 0,38 meter (pukul 05.16 WIB), Labuan Bajo 0,36 meter (pukul 05.26 WIB), dan Baubau di Sultra 0,30 meter (pukul 05.47 WIB).
Ketinggian air laut lainnya tercatat di Flores Timur setinggi 0,25 meter, Kolaka Sultra 0,23 meter, Sikka 0,20 meter, Dompu 0,17 meter, serta Bakalang-Alor 0,14 meter.
Terkait pencabutan peringatan, Dr. Nelly Florida Riama memastikan bahwa potensi bahaya dari gelombang pasang tersebut telah sepenuhnya berlalu.
“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” tegasnya.