Keterlibatan sang rektor, Prof. Akhmad Sodiq, menjadi sorotan utama lantaran ia dikenal sebagai akademisi dengan rekam jejak mentereng dan memegang banyak posisi strategis.
Akademisi kelahiran 28 Januari 1969 ini merupakan lulusan S-1 Universitas Jenderal Soedirman pada tahun 1992. Ia kemudian melanglang buana untuk melanjutkan pendidikan dengan meraih gelar S-2 dari Universitas Georg August Göttingen, Jerman (1997) dan gelar S-3 dari Universitas Kassel, Jerman (2003).
Sebelum memimpin Unsoed, Sodiq tercatat pernah menduduki posisi sebagai Pendiri sekaligus Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto pada periode 2017 hingga 2018.
Kariernya di Unsoed memuncak saat ia terpilih sebagai Rektor untuk periode I (18 Mei 2022 – 2026), setelah berhasil mengalahkan kandidat Totok Agung Dwi Haryanto dan V. Prihananto.
Kepercayaan terhadap dirinya terlihat berlanjut ketika ia kembali terpilih menjadi Rektor Unsoed untuk periode II (2026 – 2030), dengan menyisihkan dua kandidat lainnya, yakni Ali Rokhman dan Adi Indrayanto.
Sebagai seorang pakar di bidang peternakan, Akhmad Sodiq memiliki jejaring yang kuat di berbagai organisasi profesi dan keagamaan.
Ia menjabat sebagai Dewan Pengawas DPW Jateng sekaligus Ketua Cabang Jateng 2 pada Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI). Sementara di Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI), ia dipercaya duduk sebagai Dewan Pakar.
Sodiq juga aktif secara struktural di organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Ia menduduki posisi A’WAN PCNU Kabupaten Banyumas dan Dewan Kehormatan PERGUNU Kabupaten Banyumas.
Selain itu, ia turut memegang amanah sebagai Dewan Pembina Asosiasi Sarjana Membangun Desa (SMD) Jawa Tengah serta Dewan Pembina Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Unsoed.
Di bidang prestasi akademik, Sodiq sempat mendominasi gelar Dosen Berprestasi, baik di tingkat Fakultas Peternakan maupun di tingkat Universitas (Unsoed) secara berturut-turut sejak 2006 hingga 2009.
Deretan penghargaannya disempurnakan dengan raihan Unsoed Award di Bidang Pengabdian kepada Masyarakat serta anugerah Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya XX pada tahun 2017 lalu. Kini, seluruh reputasi panjang tersebut terancam sirna akibat pusaran kasus korupsi seleksi mahasiswa baru.