Fast Fashion, Sisi Gelap Industri Busana? Begini Sejarah dan Dampak Negatif Terhadap Kehidupan Manusia


inNalar.com
– Generasi muda, apalagi yang menggemari fesyen, pasti pernah mendengar istilah fast fashion. Tren tersebut memungkinkan mereka untuk mendapatkan model busana terbaru secara cepat. Terdengar bagus, ya.

Namun. apakah tren tersebut benar-benar sebagus itu? Apakah fast fashion memiliki dampak negatif bagi kehidupan?  Apa saja dampaknya? Ayo kita cari tahu lewat uraian berikut.

 Fast Fashion dan Sejarahnya

Fast fashion adalah tren mode yang berganti dengan sangat cepat. Zara merupakan merek fesyen yang mempelopori trend fast fashion pada 1990-an.

Baca Juga: Lirik Lagu Tak Ingin Usai yang Dinyanyikan Keisya Levronka, Maknanya Bikin Hati Terenyuh

Merk besutan Amancio Gaona tersebut berhasil menjual produk yang lebih banyak dengan harga murah. Perputaran katalog yang biasanya terjadi setiap dua musim, mereka jadikan setiap minggu.

Model baju dan fashion item lain yang banyak dan terus berubah dengan cepat menjadikan para konsumen tertarik untuk terus mengunjungi gerai mereka.

Uang yang mereka habiskan untuk membeli baju baru semakin besar. Keuntungan bagi Zara pun berlipat ganda.

Baca Juga: Ini Khutbah Jumat Singkat Menarik Cocok untuk Pekan Terakhir Bulan Dzulqa’dah: Tema Keharusan Mengikuti Sunah

Padahal, sebelum adanya Revolusi Industri, orang sangat sulit mendapatkan model baju terbaru karena semua baju dibuat secara manual. Sejak adanya Revolusi Industri, muncullah teknologi berupa mesin jahit yang memungkinkan orang membuat baju secara lebih cepat.

Adanya pagelaran fashion week juga mendorong terjadinya tren fast fashion. Fashion week menjadi kiblat mode dunia yang terus menerus meluncurkan model busana terbaru. Kebutuhan orang untuk eksis dan terlihat trendy pun memperparah tren tersebut.

Kenapa Memperparah?

Kata ‘memperparah’  yang digunakan pada kalimat sebelumnya bukan tanpa alasan. Faktanya, fast fashion memang menimbulkan penyakit, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi para buruh.

Baca Juga: Wajah Justin Bieber Kaku Sebelah Terserang Ramsay Hunt Syndrome, Penyakit Apa Itu? Simak Penjelasan Lengkapnya

Fast fashion merupakan salah satu penyebab pencemaran tanah, air, dan udara terbesar. Industri fast fashion biasanya memproduksi busana berbahan polyester, nilon, atau akrilik. Bahan-bahan tersebut butuh ratusan hingga ribuan tahun untuk dapat terurai.  

Selain itu, bahan-bahan semacam itu juga  menghasilkan limbah mikroplastik pada air dan tanah.  Pewarna tekstil yang digunakan juga berbahaya bagi kelangsungan sumber daya air dan tanah.

Cemaran tersebut akan menurunkan kualitas air dan tanah serta mengancam kesehatan manusia.

Baca Juga: Obsessive Compulsive Disorder atau OCD, Gangguan Mental yang Penderitanya Ingin Selalu Perfeksionis

Tak jarang, produsen menggunakan kulit binatang sebagai bahan baku pembuatan produk mereka. Hal ini tentu saja membahayakan sumber daya alam dan menghancurkan sistem rantai makanan yang seharusnya seimbang.

Jika sudah begitu, manusia pula yang akan kena getahnya. Populasi hewan yang berada di dasar rantai makanan akan membludak dan menimbulkan bencana berupa penyakit dan kelaparan.

Pencemaran udara terjadi ketika pihak pabrik membakar sisa-sisa produksi yang menimbulkan gas emisi. Emisi tersebut akan meningkatkan pemanasan global dan efek rumah kaca. Kemungkinan kekeringan pun akan meningkat pesat.

Baca Juga: Link Live Streaming Bali United vs Persebaya di Piala Presiden 2022, Dilengkapi Prediksi Susunan Pemain-H2H

Kerja Paksa Versi Modern

Fast fashion menuntut perputaran tren yang cepat. Oleh karena itu, para buruh harus bekerja ekstra keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. Sayangnya, upah yang mereka terima tidak sebanding dengan kerja keras mereka.

Menurut Newsweek, buruh garmen adalah salah satu profesi dengan gaji paling rendah. Para buruh yang biasanya diambil dari negara-negara berkembang, seperti Bangladesh dan India seringkali harus bekerja belasan jam sehari dengan upah yang hanya puluhan ribu per harinya.

Itu hanya sebagian kecil kesengsaraan yang mereka terima. Risiko bagi kesehatan dan keselamatan juga mengintai selama bekerja. Bahan-bahan kimia yang mereka hirup berbahaya bagi pernapasan dan kesehatan organ-organ lain.

Baca Juga: Bertemu Hantu Ibu di Trailer, Endy Arfian Ungkap Kengerian Saat Syuting Pengabdi Setan 2

Tempat kerja mereka pun tidak menjamin keselamatan mereka. Salah satu contoh nyata adalah runtuhnya pabrik garmen di Bangladesh pada 2013.

Pemilik pabrik yang sudah melihat adanya tanda-tanda keretakan pada bangunan pabrik tetap menyuruh para pegawainya bekerja demi mengejar keuntungan. Sampai akhirnya bangunan tersebut benar-benar runtuh dan memakan banyak korban jiwa.

Demi menekan biaya produksi dan meraup untung sebesar-besarnya, para produsen rela mengorbankan rasa kemanusiaan mereka. Kesejahteraan dan keselamatan para buruh yang seharusnya penting bagi kelangsungan produksi menjadi hal sepele bagi mereka.

Dilema Industri Fast Fashion

Tak dapat kita pungkiri bahwa masalah tren fast fashion bukanlah masalah yang mudah untuk diatasi. Ada beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan sebelum memutuskan untuk tidak membeli produk-produk fast fashion.

Baca Juga: Bacaan Niat Puasa Arafah dan Tarwiyah Sebelum Idul Adha 2022 atau 1443 H, dalam Bahasa Arab, Latin dan Artinya

Salah satunya adalah hobi. Orang yang hobi mengikuti tren fesyen terbaru tidak akan mudah menghilangkan hobinya membeli dan mengoleksi berbagai produk fesyen  begitu saja. Walaupun mereka bisa mengusahakannya, hal tersebut akan tetap memakan waktu.

Ada lagi yang tidak kalah penting, yaitu nasib para buruh di industri garmen. Mereka bekerja belasan jam sehari, tetapi masih jamak yang mendapat upah di bawah standar.

Bahkan mungkin ada yang tidak dibayar hanya untuk memproduksi fashion item berkualitas rendah yang tidak tahan lama. Belum lagi mereka harus bertaruh nyawa di tempat kerja karena banyak  pemilik pabrik yang tidak memperhatikan keamanan pabrik milik mereka.

Baca Juga: Ini Resep Nasi Kuning Rice Cooker Mudah Dibuat dan Enak ala Willgoz Pemenang MasterChef Indonesia Season 3

Jika kita langsung menghentikan trend fast fashion secara masif, para buruh tersebut akan semakin menderita karena tidak lagi mendapat pekerjaan. Lalu, bagaimana cara tepat untuk mengurangi dampak buruk fast fashion?

Agar Dampak Buruk Fast Fashion Berkurang

Anda dapat mengurangi dampak buruk fast fashion dengan melakukan beberapa hal. Pertama, perkaya literasi mengenai dampak fast fashion. Jika mengetahui dampak buruknya, Anda akan termotivasi untuk menghentikan kebiasaan konsumtif.

Kedua, pilih produk-produk berkualitas tinggi sehingga dapat Anda gunakan dalam jangka  waktu lama. Jika ada pakaian yang tidak lagi Anda gunakan, donasikan atau daur ulang pakaian-pakaian tersebut menjadi pakaian atau barang-barang baru.

Anda juga bisa membeli pakaian, sepatu, dan barang-barang lain dari thrift shop atau orang biasa menyebutnya pasar loak. Di sana, Anda dapat menemukan barang berkualitas bagus dengan harga miring.

Baca Juga: PSSI Investigasi Soal 2 Bobotoh yang Meninggal dalam Laga Persib Bandung vs Persebaya Piala Presiden 2022

Meski kebersihannya mungkin tidak terjamin barang-barang baru di mal, tetapi budaya thrifting atau thrift shopping  ini efektif untuk mengurangi berbagai jenis  limbah

Sampai di sini pembahasan mengenai fast fashion. Semoga dengan adanya artikel ini, kita dapat bersama-sama memahami bahwa di balik pakaian bagus dan berharga murah yang kita miliki terdapat keringat dan (mungkin) darah para buruh yang harus kita hargai.

Semakin murah harga pakaian, semakin kita patut mempertanyakan kesejahteraan orang-orang yang berada di baliknya.***

Berita Terkait