

inNalar.com – Berpikir positif adalah kebiasaan yang bagus untuk menghidari kecemasan berlebih pada diri kita, tetapi seperti kata pepatah, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, termasuk terlalu banyak berpikir positif. Bisa-bisa kita terkena toxic positivity.
Sesuai namanya, toxic positivity merupakan sisi negatif dari kebiasaan berpikir positif. Jika terus dibiarkan, toxic positivity akan memengaruhi kesehatan mental kita. Kok bisa begitu? Simak penjelasaannya pada uraian berikut.
Toxic Positivity dan Ciri-cirinya
Toxic positivity adalah keadaan ketika seseorang memaksa dirinya atau orang lain untuk selalu berpikir positif. Pikiran positif akan menjadi racun ketika orang memilih tidak berpikir negatif sama sekali. Padahal, pikiran negatif juga perlu dirasakan dan diekspresikan agar tidak menjadi beban bagi kesehatan mental.
Orang-orang yang terkena toxic positivity memiliki beberapa ciri khusus, yaitu merasa bersalah ketika mengungkapkan emosi negatif, sering menghindari atau membiarkan masalah, dan sering menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dirasakan.
Mereka juga sering membandingkan diri dengan orang lain. Tak jarang, mereka pun akan menyalahkan orang yang tertimpa masalah. Ketika mereka mencoba menyemangati orang lain, kata-kata yang mereka lontarkan malah cenderung meremehkan.
Adanya media sosial juga ikut andil dalam menciptakan toxic positivity. Kehidupan serba sempurna yang ditunjukkan di media sosial menyebabkan banyak orang takut dan malu mengungkapkan apa yang sebenanya mereka rasakan. Akhirnya, mereka berpikir bahwa pikiran negatif adalah hal yang tabu untuk ditunjukkan.
Cara Atasi Toxic Positivity
Dari ciri-ciri yang sudah disebutkan sebelumnya, kita dapat menerka dampak toxic positivity bagi kesehatan mental. Emosi yang tidak tersalurkan dapat membuat kita frustrasi, stres, bahkan depresi.
Kita juga akan merasa terisolasi dari lingkungan sekitar. Alasannya adalah karena kita terlalu menuntut diri untuk terlihat tangguh. Orang lain pun akan menjadi bingung menghadapi sikap kita yang seakan tidak pernah merasa sedih. Padahal, meminta bantuan orang lain saat kesulitan adalah hal wajar karena kita adalah makhluk sosial.
Jika Anda sudah terlanjur mengalami toxic positivity, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Cara-cara berikut juga akan mencegah Anda menjadi sumber toxic positivity bagi orang lain.
1. Kelola Emosi Negatif dengan Baik
Untuk mengatasi toxic positivity, hal yang perlu Anda lakukan pertama kali adalah menanamkan pola pikir yang benar mengenai emosi negatif. Emosi negatif ada bukan untuk Anda hindari, melainkan untuk Anda kelola dengan baik.
Jika Anda belum terbiasa berkeluh kesah pada orang lain, tulislah perasaan negatif yang Anda rasakan dalam buku harian. Hal tersebut akan menghindarkan Anda dari berbagai penyakit mental akibat beban pikiran yang terlalu banyak.
2. Jangan Membandingkan Masalah
Kemampuan setiap orang dalam menghadapi masalah berbeda-beda. Suatu masalah yang Anda anggap mudah bisa jadi adalah masalah yang sulit bagi orang lain. Oleh karena itu, hindari membandingkan masalah Anda dengan orang lain.
Selain membuang waktu, membanding-bandingkan masalah adalah sesuatu yang tidak adil. Daripada Anda sibuk merasa paling menderita, lebih baik gunakan waktu Anda untuk memahami diri dan mencari solusi untuk masalah Anda.
Baca Juga: Khutbah Jumat Singkat dan Menarik: Tema Sifat Pelit Jadi Sumber Masalah Serta Bencana di Dunia
3. Batasi Penggunaan Media Sosial
Media sosial akan memperparah toxic positivity yang Anda alami. Anda akan terus merasa menderita jika selalu melihat unggahan di media sosial orang lain yang terkesan selalu bahagia.
Membatasi penggunaan media sosial akan berpengaruh besar pada kesehatan mental Anda. Hindari orang-orang yang unggahannya memicu emosi Anda. Lakukanlah hal-hal lain yang membuat Anda bahagia dan lebih produktif. Misalnya, melakukan hobi atau mencoba hal-hal baru.
Setelah mengetahui seluk beluk toxic positivity, semoga Anda dapat menjadi orang yang lebih open minded. Tak masalah jika sesekali Anda merasa tidak baik-baik saja. Yang terpenting adalah bagaimana cara Anda mengelola emosi negatif yang Anda rasakan.***