

inNalar.com – 2022 sudah memasuki pertengahan tahun, tapi saat ini di bulan Juni masih turun hujan. Curah hujan yang tinggi terjadi merata di sebagian besar wilayah Indonesia.
Melalui video Weekly Weather Outlook Episode ke-87 yang diunggah ke YouTube, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan bulan Juni masih turun hujan.
Dilansir inNalar.com dari channel YouTube resmi milik BMKG yaitu Info BMKG, secara global La Nina moderat masih menjadi salah satu penyebab tingginya curah hujan yang terjadi saat ini.
Namun, terdapat pengaruh lain dari kondisi dinamika atmosfer harian di bulan Juni terhadap curah hujan yang tinggi.
Dea Nurina Bestari seorang Prakirawan dari BMKG menjelaskan lebih rinci alasan yang menyebabkan masih turun hujan di bulan Juni.
Dea menjelaskan, hasil pantauan peta hari tanpa hujan berdasarkan citra satelit cuaca pada tanggal 15 Juni 2022 menunjukkan masih tingginya curah hujan di sebagain besar wilayah Indonesia.
Beberapa wilayah Indonesia bahkan mengalami intensitas hujan yang sangat lebat.
“Kondisi curah hujan yang sangat lebat menyebabkan terjadinya bencana hidrometeorologi. Seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di beberapa wilayah pada bulan Juni ini,” kata Dea dalam video Weekly Weather Outlook Episode ke-87 di menit 1:04 hingga 1:14.
Prakirawan BMKG ini juga menjelaskan bahwa tingginya curah hujan di bulan Juni bukan sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor La Nina. Tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer harian yang labil.
Kondisi tersebut jelasnya dapat berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan.
Dea juga menjelaskan beberapa faktor yang menjadi tingginya curah hujan di bulan Juni 2022 ini. Di antaranya yaitu:
1. Masih hangatnya suhu muka laut di beberapa wilayah Indonesia, dibandingkan dengan suhu normalnya. Kondisi ini akan mendukung peningkatan siplai uap air untuk pembentukan awan-awan hujan.
Selain itu, tingginya kelembaban udara yang masih terjadi di sekitar wilayah Indonesia juga mendukung pembentukan awan hujan lebih intens.
2. Aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation atau MJO, gelombang Rosby Equatorial dan gelombang Kelvin. Yang kemunculannya juga berpotensi sebabkan cuaca ekstrem di Indonesia.
Baca Juga: BMKG Mencatat Adanya Potensi Hujan Lebat Disertai Petir yang Tersebar di Sejumlah Wilayah Indonesia
3. Terbentuknya pola-pola pusaran angin di perairan barat Sumatra dan di wilayah sekitar Kalimantan. Sehingga membentuk daerah konergensi atau pertemuan dan perlambatan kecepatan angin.
Dari beberapa faktor yang telah disebutkan tersebut, BMKG menyebut bahwa perubahan iklim di Indonesia bisa terjadi secara fluktuatif.
Sehingga perubahan cuaca bisa terjadi dengan cukup drastis dan turut menjadi alasan kenapa bulan Juni masih turun hujan.
Untuk itu, BMKG juga mengimbau agar seluruh masyarakat Indonesia tetap waspada. Terutama bagi yang tinggal di daerah rawan bencana hidrometeorologi.***