Kisah Dendam David Beckham dan Taktik Kotor di Laga Inggris vs Argentina yang Tak Terlupakan Sejarah

inNalar.com – Pertemuan Inggris dan Argentina di babak semifinal Piala Dunia 2026 sontak membangkitkan kembali memori panas para pecinta sepak bola.

Rivalitas kedua tim di lapangan hijau memang bukan cuma soal sepak bola. Sejarah panjang dan intrik politik selalu mengiringi setiap bentrokan kedua negara ini.

Laga Inggris vs Argentina di babak semifinal Piala Dunia 2026 akan digelar di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Amerika Serikat, pada Kamis (16/7/2026), pukul 02.00 WIB.

Gelandang Argentina, Rodrigo De Paul, sadar betul akan beban sejarah tersebut. “Kami memahami ini adalah pertandingan sepak bola yang melampaui batas biasa,” katanya.

Ia mengaku timnya sering bernyanyi untuk mengenang pahlawan Malvinas, meski pada akhirnya mereka paham bahwa itu tetaplah sebuah laga sepak bola.

Tragedi 1998

Pertemuan di babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Saint-Étienne, Prancis, menjadi awal mula kisah kelam ini. Ketegangan sudah terasa sejak menit pertama pertandingan dimulai.

Legenda Argentina, Jorge Valdano, mendeskripsikan atmosfer laga saat itu dengan sangat panas. Menurutnya, laga ini begitu tegang sampai-sampai “Mexican wave (ombak penonton) tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk terjadi.”

Momen puncak terjadi saat kapten Argentina, Diego Simeone, memprovokasi David Beckham yang saat itu masih berstatus pemain muda. Simeone sengaja melanggar Beckham dengan keras dari arah belakang.

Beckham jatuh ke tanah. Emosinya terpancing, lalu ia merespons dengan ayunan kaki ringan ke arah Simeone. Wasit menganggapnya sebagai pelanggaran fatal dan langsung mencabut kartu merah. Taktik kotor Simeone membuahkan hasil.

Inggris pun harus berjuang dengan sepuluh pemain sebelum akhirnya tersingkir tragis lewat adu penalti. Gara-gara insiden itu, Beckham langsung dicap sebagai musuh masyarakat nomor satu di seantero Inggris selama bertahun-tahun.

Perang Psikologis Inggris vs Argentina

Takdir kembali mempertemukan Inggris dan Argentina empat tahun kemudian. Kali ini mereka bertarung di fase grup Piala Dunia 2002 di Sapporo, Jepang.

Pelatih Inggris kala itu, Sven-Göran Eriksson, paham betul lawannya gemar merusak mental pemain. Ia lantas menempuh cara yang tidak biasa dengan merekrut psikolog olahraga khusus untuk mendampingi skuadnya.

Sang psikolog menanamkan satu aturan wajib bagi seluruh pemain. Instruksinya sangat jelas dan krusial: “Jangan pernah melakukan kontak mata dengan pemain Argentina.”

Pages: 1 2