
inNalar.com – Timnas Indonesia harus menelan pil pahit setelah dihajar Vietnam 0-3 dalam laga yang krusial. Skuad Garuda yang diharapkan mampu memberikan perlawanan justru kehilangan tajinya sejak awal, Senin (3/8/2026) malam WIB.
Bermain di Stadion Pakansari, Cibinong, pertahanan Timnas Indonesia dieksploitasi oleh serangan-serangan tajam Vietnam yang berujung pada kekalahan telak tanpa balas.
Kekalahan ini menyoroti buruknya performa lini belakang Indonesia, di mana koordinasi antar pemain sama sekali tidak berjalan optimal.
Namun, di balik hasil mengecewakan tersebut, muncul satu perdebatan terkait sosok pemain yang dinilai tampil paling bapuk dan menjadi biang kerok hancurnya tembok pertahanan Garuda.
Dalam laga melawan Vietnam, penjaga gawang Nadeo Argawinata (29 tahun) tampil jauh dari harapan setelah kebobolan dua gol hanya dalam waktu 15 menit pertama. Ironisnya, kedua gol cepat tersebut bersarang dengan mudah di area tiang dekat, menunjukkan kelemahan antisipasi yang sangat fatal.
Nadeo bukan hanya gagal mengamankan gawangnya pada fase krusial, tetapi juga dinilai gagal menjalankan peran sebagai distributor bola. Ia terlihat terburu-buru dan panik saat melakukan build-up serangan dari belakang, yang membuat penguasaan bola (ball possession) Indonesia sering terputus. Akibatnya, ia gagal memberikan rasa aman di lini belakang skuad Garuda.
Kesalahan nyatanya tidak hanya terjadi di bawah mistar gawang. Rizky Ridho yang beroperasi di sektor kanan pertahanan melakukan error leading to goal pada terciptanya gol pertama. Lebih dari itu, rapuhnya transisi negatif (dari menyerang ke bertahan) terlihat sangat jelas pada proses gol kedua.
Ridho terlambat turun dan meninggalkan celah besar di sektor kanan yang langsung dihukum lewat serangan balik cepat oleh Vietnam. Sektor kanan ini pada akhirnya menjadi titik lemah yang terus dieksploitasi karena Indonesia selalu kalah momentum.
Di jantung pertahanan, bek tengah senior Jordi Amat juga gagal menunjukkan kapasitasnya. Alih-alih memimpin rekan-rekannya merapatkan barisan, ia justru gagal melindungi area pertahanan pada proses terciptanya gol pertama dan kedua.
Terdapat kesenjangan kecepatan (pace mismatch) yang sangat nyata di mana Jordi Amat kalah mobilitas dan kecepatan dari para penyerang Vietnam. Puncaknya, ia gagal mengawal pergerakan Nguyen Xuan Son yang sukses mencetak gol ketiga. Perdebatan pun semakin menghangat usai laga.
Di satu sisi, pengalaman Jordi Amat masih dianggap penting. Di sisi lain, deretan kesalahan antisipasi dan lambatnya respon ini membuat pelatih harus mulai mempertimbangkan apakah susunan pemain di lini belakang perlu dirombak total demi memperbaiki kelemahan di laga-laga selanjutnya.
Statistik Minor Lini Belakang Timnas Indonesia
Kebobolan: 3 Gol
Gol 15 Menit Pertama: 2 (Tiang Dekat)
Error Leading to Goal: 1 (Rizky Ridho)
Gagal Kawal Striker: Nguyen Xuan Son (Jordi Amat)