
inNalar.com – Ada misi besar menanti skuad Tango di Final Piala Dunia 2026. Laga pamungkas yang mempertemukan Argentina vs Spanyol ini bukan cuma soal perburuan gelar juara semata.
Argentina sukses amankan tiket ke final dengan perjuangan keras. Mereka berhasil mengalahkan Inggris dengan skor tipis 2-1 di babak semifinal.
Kini, Spanyol jadi rintangan terakhir skuad asuhan Lionel Scaloni. Laga puncak bakal digelar pada hari Senin, (20/7/2026) pukul 02.00 WIB.
Kalau menang lawan Spanyol, Argentina bakal angkat trofi untuk yang ke-4 kalinya. Sebelumnya mereka sudah pernah juara di edisi 1978, 1986, dan 2022.
Tapi ada yang lebih besar dari sekadar trofi keempat. Ada rekor Piala Dunia Argentina yang super langka sedang dikejar di turnamen ini.
Mereka membidik status sebagai juara Piala Dunia back-to-back. Ya, Argentina bertekad mengawinkan gelar juara Qatar 2022 dan Piala Dunia 2026.
Bisa mengamankan status juara beruntun ini adalah rekor langka sepak bola. Sudah 64 tahun lamanya tidak ada satu pun negara yang mampu pertahankan trofi.
Terakhir kali ada negara yang bisa melakukannya adalah Brasil. Tim Samba merengkuh rekor tersebut pada tahun 1962 silam.
“Mempertahankan gelar di Piala Dunia bukan perkara mudah. Dalam hampir satu abad penyelenggaraannya, hanya dua negara yang pernah melakukannya,” catat beberapa pengamat bola.
Jika sukses kalahkan Spanyol, ini bakal jadi penutup manis buat La Pulga. Laga Lionel Messi final 2026 ini membawa beban sejarah yang sangat istimewa.
Jika berhasil, Messi dan kolega akan mengakhiri penantian lebih dari enam dekade sepak bola dunia. Mereka bakal jadi saksi lahirnya juara bertahan yang sesungguhnya.
Dalam buku sejarah Piala Dunia, mempertahankan trofi bergengsi ini amatlah berat. Cuma ada dua negara yang berstatus back-to-back champions sejauh ini.
Negara pertama yang masuk daftar elite ini adalah Italia. Gli Azzurri jadi juara di edisi 1934 usai tundukkan Cekoslowakia dengan skor 2-1 di final.
Empat tahun kemudian, Italia sukses pertahankan gelar. Mereka hempaskan Hungaria 4-2 di final tahun 1938.
Catatan sejarah menyebut Italia sebenarnya berpeluang cetak treble alias tiga kali beruntun. Sayang, Piala Dunia 1942 dan 1946 terpaksa dibatalkan akibat Perang Dunia II.
Negara kedua di daftar ini adalah Brasil. Mereka awali masa kejayaan di Swedia pada tahun 1958 dengan menggilas tuan rumah 5-2.
Lanjut ke tahun 1962, Brasil kembali buktikan tajinya di Cili. Mereka sukses pertahankan gelar usai bungkam Cekoslowakia 3-1 di partai final.
Kemenangan Brasil di tahun 1962 ini sangat legendaris dan heroik. Sang mega bintang, Pelé, kena cedera parah sejak fase grup dan tidak bisa main.
Untungnya, Brasil tidak kehabisan akal. Peran vital Pelé berhasil digantikan dengan sangat sempurna oleh Garrincha hingga bawa Brasil juara.
Rekor elite ini makin terasa sulit kalau melihat rentetan tim raksasa yang gagal. Banyak yang nyaris juara dua kali beruntun tapi harus tumbang di detik-detik akhir.
Argentina sendiri pernah rasakan sakitnya kegagalan ini. Setelah sukses juara bareng Diego Maradona di tahun 1986, mereka kembali tembus final di tahun 1990.
Sayangnya, Argentina kalah 0-1 dari Jerman Barat saat itu. Gol penalti Andreas Brehme buyarkan mimpi back-to-back tim Tango.
Brasil juga pernah gigit jari di era modern. Habis juara di tahun 1994, mereka masuk final lagi pada edisi 1998.
Nahas, di final 1998 mereka malah tampil loyo. Brasil dihajar habis-habisan oleh tuan rumah Prancis dengan skor telak 0-3.
Contoh paling segar di ingatan tentu saja Timnas Prancis. Les Bleus sukses juara di tahun 2018 dan melaju mulus ke final 2022.
Sayangnya, Prancis kalah secara dramatis dari Argentina. Laga berjalan imbang 3-3 selama 120 menit, lalu Prancis harus menyerah di babak adu penalti.
Kini, panggung pembuktian sudah disiapkan. Laga Argentina vs Spanyol akhir pekan ini bakal jadi penentu apakah kutukan 64 tahun itu benar-benar akan pecah.