

inNalar. com – Ustadzah Halimah Alaydrus menyampaikan kisah dahsyat dan mengharukan tentang salah seorang ulama terkemuka yaitu Sayyidina Musa.
Sayyidina Musa adalah sosok yang sangat dihormati dan dianggap sebagai pilar masyarakat.
Namun, julukan yang paling mengesankan adalah ‘al-Kadzim’, yang berarti ‘orang yang mampu menahan emosi’.
Julukan ini bukan tanpa alasan. Ada serangkaian peristiwa tragis dalam kehidupan Sayyidina Musa yang berujung pada kejadian mengejutkan yang menggambarkan kemampuannya dalam menahan emosi.
Baca Juga: Cara Mengatasi Overthinking dalam Islam, Habib Ja’far: Segala Sesuatu itu Ada Batasnya
Sayyidina Musa memiliki anak yang baru merangkak.
Suatu ketika budak Sayyidina Musa Al kadzim membawa kuali yang sangat besar berisi kuah. Saking besar nya ia tidak bisa melihat sesuatu di bawah nya.
Tanpa sengaja budak ini kaki nya menabrak anak Sayyidina Musa yang sedang merangkak.
Dia terjatuh dan kuah panas tersebut mengenai sang anak. Sang anak menggelepar menggelepar ketika itu juga, menangis dan menjerit.
Baca Juga: Mengapa Al-Qur’an disusun Tidak Sesuai Tema? Membongkar Misteri Susunan Al-Qur’an
Budak ini pun berdiri dan panik melihat anak majikan nya menjerit dan menangis histeris seluruh badanya terkena kuah panas.
Dan langsung menghembuskan nafas saat itu juga.
Sayyidina Musa datang dengan muka yang memerah, seorang ayah harus melihat anaknya meninggal didepan matanya sendiri karena budak nya.
Melihat peristiwa ini, setiap orang yang merasakannya mungkin akan penuh dengan amarah dan kemarahan.
Sayyidina Musa langsung membaca firman Allah:
والكاظمين الغيظ
“Dan orang orang yang menahan amarah nya.”
Lalu Sayyidina Musa berkata:
إذا كظمت الغيظ
“Kalau begitu aku menahan amarahku.”
Baca Juga: Cara Ampuh Hindari Maksiat , Ustadz Felix Siaw: Jangan Sok Hebat Ngajak Setan Berantem
Budak nya menundukkan kepalanya dengan sangat, tak hanya kepalanya tapi hatinya.
Ia melanjutkan firman Allah SWT
و العافين عن النّاس
“Dan yang memaafkan kesalahan orang lain sebesar apapun. Walaupun harus melihat anaknya terbunuh karena budaknya.”
إذا أعفو عنه يا رب
“Kalau begitu aku maafkan dia Ya Rabb.”
Sang budak, yang ketakutan dan merasa bersalah terhadap tindakannya, melanjutkan firman Allah SWT kembali.
Baca Juga: Menenangkan Diri Menurut Ustadz Abdul Somad: Ketika Hati Kita Tenang, Semuanya yang Lain Mengikuti
و الله يحب المحسنين
“Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang selalu berbuat baik kepada siapapun.”
Seketika Sayyidina Musa melihat ke arah budaknya dan berkata
“Aku tahu hal yang paling kamu inginkan adalah kebebasan, saya membebaskanmu…saya memberikan kebebasan padamu karena Allah, aku membebaskanmu dari perbudakan Karena Allah,” Kata Ustadzah Halimah Alaydrus.
Cerita ini berakhir dengan Sayyidina Musa yang dapat mengendalikan emosinya di situasi yang sangat tidak menguntungkan, dan memberikan contoh luar biasa tentang menahan marah dan memaafkan.
Kisah ini memberikan peringatan yang besar untuk kita bahwa orang yang kuat bukanlah mereka yang selalu menang dalam pertengkaran atau perkelahian fisik.
Tetapi mereka yang dapat mengendalikan marah mereka dan bersedia memberikan maaf , bahkan saat yang lain mungkin merasa sulit untuk melakukannya.
“Orang yang kuat bukanlah orang yang bergulat dan menjadi pemenang… tapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai kemarahannya, yang mampu menguasai emosinya,” tutup Ustadzah Halimah Alaydrus.***