Menilik Saka Lawang: Pengolahan Tebu Secara Tradisional di Kabupaten Agam, Masih Pakai Tenaga Kerbau?


inNalar.com – Tabu atau tebu Lawang menjadi merek yang tak asing di kalangan masyarakat terutama Sumatera Barat.

Seringkali kita menjumpai orang menjual air tebu dengan berlabel Tabu Lawang.

Salah satu minuman lawang yang disukai sebagai pelepas dahaga dan obat demam bagi yang mengonsumsinya.

Baca Juga: Viral! Seorang Pria Paruh Baya di Sumatera Utara Pamer Uang Gepokan di Jalan Raya, Ingin Adu Kekayaan?

Lalu bagaimana minuman ini bisa disebut Tabu Lawang? Penasaran, simak selengkapnya.

Melansir dari Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatera Barat, Lawang merupakan nama daerah yang berada Kabupaten Agam dimana sebagian besar lahan perkebunan masyarakat setempat ditanami tebu.

Sebagai informasi, untuk produk yang dihasilkan berupa gula merah tebu atau dalam bahasa masyarakat Lawang dinamakan “gulo saka” atau “Saka Lawang”.

Baca Juga: Dokter Palestina Kirim Pesan Terbuka untuk 100 Dokter Israel yang Meminta Pengeboman Rumah Sakit di Gaza

Saka Lawang ini sangat digemari oleh masyarakat setempat.

Uniknya, di Lawang kita masih bisa melihat langsung pengolahan tebu secara tradisional dengan menggunakan tenaga kerbau.

Proses awal pembuatan Saka Lawang tebu diperas dengan cara menutup mata kerbau memakai tempurung kelapa dan kain supaya tetap mau berjalan.

Baca Juga: Pasca Anwar Usman Terbukti Lakukan Pelanggaran Kode Etik Berat, Mahfud MD Kini Mengaku Bangga Lagi dengan MK

Bahkan, pengolahan tebu yang dibuat menjadi gula merah ini juga dijadikan Paket wisata yang masih tetap lestari hingga saat ini.

Berdasarkan penuturan Asrul (60th) selaku pengelola Kilang Tabu Tradisional, usaha ini telah dilakukan oleh keluarganya sejak turun temurun. 

Ia juga menjelaskan pengolahan tebu menggunakan mesin dulu telah dilakukan.

Walaupun hasil yang diperoleh bisa mencapai 100kg/hari. Tetapi, kualitasnya tidak bagus dan hasilnya kotor semua.

Penggunaan alat tradisional dalam proses penyaringan tebu tentu memakan waktu lama.

Asrul menyatakan bahwa pengolahan tebu dalam 4 kali penyaringan tradisional hanya menghasilkan 25 kg/hari.

Inilah keunikan saka lawang pengolahan tebu tradisional salah satu tradisi yang masih dipertahankan dan menjadi unggulan di Kabupaten Agam. ***

 

Rekomendasi