

inNalar.com – Kabar gembira mengenai kebangkitan sektor industri rotan datang dari sebuah desa kecil bernama Hampangen yang berada di Kecamatan Tasik Payawan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Sebelumnya diketahui industri rotan Desa Hampangen di Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah ini sempat lama ditutup, karena sejak 2014 kegiatan ekonomi kian melesu.
Pada dasarnya, kebijakan larangan ekspor bahan mentah tujuannya untuk membuka lebar pasar industri rotan dalam negeri, salah satunya produsen yang ada di Kalimantan Tengah ini.
Baca Juga: Profil Vandiko Timotius Gultom, Bupati Termuda di Sumatera Utara dengan Kekayaan Capai Rp3,8 Miliar
Namun ternyata Desa kecil di Katingan Kalimantan Tengah ini kala itu masih belum sesiap perusahaan di Cirebon mau pun Surabaya.
Ketidaksiapan industri rotan inilah yang akhirnya tidak sejalan dengan harapan dari adanya kebijakan larangan ekspor bahan mentah tersebut, cukup disayangkan.
Namun nasib mujur masih memihak Desa Hampangen di Katingan Kalimantan Tengah ini.
Pasalnya terdapat investor dari dua negara sekaligus yang berminat untuk bekerja sama membangun kembali industri rotan di Desa Hampangen Katingan.
Kedua investor yang akhirnya menjadi penyelamat industri rotan di salah satu desa yang ada di Kalimantan Tengah ini adalah Korea Selatan dan Belanda.
Kebangkitan industri rotan di Desa Hampangen ini ditandai dengan adanya Nota Kesepahaman atau MoU dengan pihak investor pada 3 Juli 2023 di Kantor P2T Katingan.
Harapannya keberlanjutan industri sektor ini bakal mengulang masa kejayaan Desa Hampangen yang merupakan penghasil rotan terbesar di Kalimantan pada 2015 silam.
Dilansir inNalar.com dari laman Kementerian Perdagangan RI, Katingan adalah penghasil rotan terbesar di Kalimantan dengan kemampuan produksi 600 sampai dengan 800 ton setiap bulannya.
Terlebih lagi, Katingan di Kalimantan Tengah ini sangat dilirik oleh investor asing sebab 90 persen luas wilayahnya dipenuhi oleh hutan rotan.
Tak hanya kemampuan produksi, hasil kerajinan rotan Katingan, Kalimantan Tengah juga punya pembeda dari corak rotan Jawa.
Baca Juga: Nostalgia! Inilah Deretan Jajanan SD Tahun 80-an, dr Zaidul Akbar: Bikin Bahagia, Padahal Aslinya…
Motif kerajinan rotan Katingan, Kalimantan Tengah menggunakan corak khas Dayak seperti Burung Tingang. Terlebih jenis rotan yang digunakan masyarakatnya nilainya sangat ekonomis.
Berdasarkan data yang diungkap oleh Kementerian Perdagangan, Indonesia telah memiliki potensi besar pada komoditas rotan, mengingat 85 persen bahan baku rotan dunia dipasok dari dalam negeri.
Produk ini semakin diminati dunia sebab preferensi masyarakat dari seluruh negara mulai beralih ke produk ramah lingkungan, sehingga banyak produk furniture di luar negeri menggunakan bahan dasar rotan.***