

inNalar.com – Pembahasan kunci jawaban bab 2 bertajuk ‘Kawan Seiring’ pada buku Bahasa Indonesia kelas 3 SD, para siswa diajak mengeksplorasi bahan bacaan baru.
Kunci jawaban Bahasa Indonesia pada artikel sebelumnya, para murid diberikan sebuah bacaan berjudul “Istana Kue”.
Pada tajuk ‘Jurnal Membaca’, para murid dipersilakan untuk mencari bahan bacaan secara mandiri.
Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 3 SD Bab 2 ‘Kawan Seiring’ Halaman 46: Istana Kue
Setelah itu, para murid didampingi orang tua untuk memahami cerita dari bagian awal, tengah, dan akhir.
Selain itu, para murid diminta untuk mengamati judul buku dan ceritanya, penulis, hingga ilustratornya.
Berikut ini kunci jawaban Bahasa Indonesia latihan segmen ‘Jurnal Membaca’ halaman 51.
Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 3 SD Halaman 37 Bab 2 Kurikulum Merdeka: Mencari Kata
Para orang tua dapat mengunduh sebuah buku dari situs Badan Bahasa Kemdikbud berjudul ‘Cerpen dan Dongeng Minuman Nusantara’
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 3 SD Halaman 51: Jurnal Membaca
Judul Buku: Cerpen dan Dongeng Minuman Nusantara
Penulis: Suyitman
Nama Ilustrator: Muhammad Ali Sofi
Judul Cerita Pendek: Raja Cendol
Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Hal 35 Kelas 3 SD Bab 2 Kurikulum Merdeka
AWAL
Cerita dimulai dengan pengenalan situasi dan tokoh-tokoh utama serta konflik awal.
“Selamatkan bayi ini. Selamatkan!” kata kesatria berkuda sambil meletakkan bungkusan di balik semak. Kesatria itu menatap Pak Eku dengan iba.
Belum sempat berkata, kesatria itu pergi ketika melihat pasukan berkuda berlari kencang di belakangnya. “Jangan biarkan dia lolos,” kata salah seorang penunggang kuda.
Pak Eku bingung. Dia berdiri mematung. Pak Eku dikejutkan oleh suara tangis. Dia segera mendekati sumber suara. Dilihatnya bayi laki-laki mungil itu sedang menangis. Pak Eku merasa kasihan.
Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 3 Halaman 22 Kurikulum Merdeka: Jurnal Membaca
Dia segera pergi membawa bayi itu. Pak Eku tidak kembali ke rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya.
Pak Eku membesarkan bayi itu seorang diri. Istrinya telah lama meninggal. Bayi itu diberi nama Ranu.
Ranu tumbuh menjadi anak yang rajin. Setiap hari Ranu membantu Pak Eku membuat cendol. Ranu bertugas mengaduk tepung beras dengan sedikit air perasan daun pandan dan suji.
Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 3 SD Halaman 12 Kurikulum Merdeka: Main Egrang
Setelah merata, adonan itu direbus hingga mengental. Lalu, Ranu mencetaknya menjadi butiran-butiran cendol yang menarik.
Siang harinya, Ranu membantu Pak Eku berjualan cendol di pasar. Cendol Pak Eku disukai pembeli.
Aroma pandan dan tekstur cendol yang kental membuat pembeli ketagihan. Apalagi, larutan gula merahnya yang begitu manis membuat cendol Pak Eku selalu habis sebelum tengah hari.
TENGAH
Bagian tengah mencakup pengembangan cerita dan berbagai peristiwa yang terjadi seiring waktu.
Seiring pertumbuhan Ranu, Pak Eku gelisah. Pak Eku sadar, dia harus menyerahkan Ranu kepada orang tuanya. Namun, siapa? Di mana? Kesatria itu pergi tanpa meninggalkan pesan.
Untuk memulai pencariannya, Pak Eku mengajak Ranu berjualan cendol di tanah kelahirannya, tempat dulu Ranu dititipkan. Pak Eku berharap kesatria berkuda akan kembali menemuinya. Akan tetapi, setelah setahun berjualan, kesatria itu tak kunjung datang.
“Ayah, kita pindah ke mana lagi?” protes Ranu. “Bukankah cendol kita selalu habis?”
“Kita ke kerajaan di selatan. Di sana pemandangannya lebih asyik. Ada pantai dengan pasir putih yang indah,” jawab Pak Eku berkilah.
Ranu tak berani menolak. Apalagi, dia belum pernah mandi air laut.
Namun, sudah sebulan di Kerajaan Selatan, Pak Eku belum mendapatkan tanda-tanda orang tua yang mencari anaknya.
Pak Eku pun kembali mengajak Ranu pergi ke Kerajaan Timur.
“Raja di sini kejam. Rakyat harus membayar pajak tinggi,” ungkap Pak Eku meyakinkan.
Ranu memakluminya. Pelanggan cendolnya banyak yang menggunjingkan raja mereka. Di Kerajaan Timur pun Pak Eku tidak mendapatkan berita yang dibutuhkan. Begitu juga di Kerajaan Utara dan Barat.
“Kita ke Kerajaan Seberang,” ajak Pak Eku ketika sudah setahun di Kerajaan Barat.
“Kok pindah terus, Yah?” keluh Ranu.
Pak Eku terdiam. Dia tidak punya alasan yang kuat. Penduduk di sini menyukai cendol, begitu juga dengan keluarga kerajaan. Setiap hari Ranu mengantar cendol pesanan raja.
Begitu juga saat ada pesta atau kedatangan tamu kerajaan, cendol selalu menjadi hidangan istimewa.
Namun, saat mengemasi barang, Pak Eku tiba-tiba sakit. Tubuhnya lemas. Pak Eku tak mampu berdiri.
Ranu senang tak jadi pindah. Namun, Ranu juga sedih karena ayahnya sakit.
Suatu pagi, saat baru membuka toko cendolnya, Ranu kedatangan utusan kerajaan. Dia memesan cendol untuk tamu dari Kerajaan Seberang.
Entah mengapa Ranu merasa begitu bahagia. Meski telah berulang kali membuat cendol untuk raja-raja dari pelosok negeri, pesanan Raja Seberang terasa berbeda. Apalagi, kesehatan Pak Eku juga mulai pulih.
Saat menyajikan cendol, tubuh Ranu bergetar, kakinya terasa berat untuk melangkah.
Ingin sekali Ranu bersimpuh di hadapan sang Raja Seberang. Akan tetapi, apa Raja Seberang merasakan hal yang sama? Ah, beliau hanya terpaku menatap cendol.
“Silakan, Paduka!” kata Ranu sambil membungkukkan badan.
Raja Seberang terbelalak saat melihat tanda hitam pada tengkuk Ranu. Dengan terbata-bata dia berkata, “Kau …, kau siapa?”
“Namaku Ranu, pembuat cendol ini.”
“Siapa yang mengajarimu?”
“Ayahku.”
“Di mana dia?”
Raja Barat segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Pak Eku. Seisi ruangan diam. Menunggu apa yang akan terjadi saat Pak Eku masuk istana.
AKHIR
Bagian akhir mencakup penyelesaian cerita dan penutup.
“Kesatria berkuda,” bisik Pak Eku lirih. Dia kaget ketika melihat Raja Seberang yang duduk di samping Raja Barat.
“Ranu ini bayi yang Tuan titipkan dulu,” ungkap Pak Eku setelah memberi hormat.
Raja Seberang tahu kalau Ranu anaknya. Itu setelah Raja Seberang melihat tanda lahir berbentuk bintang yang dimiliki Ranu. Akan tetapi, dia ragu kalau Ranu tahu tanda itu.
Setelah jati diri Ranu terbuka, Raja Seberang segera memeluk Ranu sambil menangis bahagia. Berulang kali dia berucap, “Anakku, Anakku! Akhirnya, aku menemukanmu.”
Ranu pun melampiaskan perasaan yang sejak tadi dipendamnya. Raja Barat tak mampu membendung air matanya. Begitu juga dengan semua orang yang ada di dalam istana. Semua orang larut dalam keharuan.
Setelah melepaskan kerinduannya, Raja Seberang pun menceritakan kisah 15 tahun lalu.
Saat itu kerajaannya diserang oleh pemberontak. Semua keluarganya dihabisi. Dia melarikan diri menyeberangi pantai, tetapi musuh terus memburunya. Karena khawatir tak lolos dari kejaran musuh, Raja Seberang memberikan bayinya kepada penjual cendol, Pak Eku.
“Terima kasih, kamu telah merawat anakku dengan baik,” ucap Raja Seberang. Sekarang kerajaan sudah aman. Marilah ikut aku ke Negeri Seberang.”
“Ayah, maafkan aku yang telah berburuk sangka,” pinta Ranu kepada Pak Eku.
Pak Eku hanya tersenyum. Tak terasa air matanya mengalir. Pak Eku bangga, meski Ranu telah menjadi putra mahkota, dia tak berubah. Ranu tetap menjadi anak yang rendah hati layaknya penjual cendol.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi