

YOGYAKARTA, inNalar.com – Kasus kopi sianida yang menyeret Jessica Wongso dan menewaskan Mirna Salihin kembali menjadi sorotan publik setelah ditemukan bukti baru yang mengejutkan.
Seorang ahli forensik digital mengungkap adanya manipulasi besar-besaran pada rekaman CCTV kasus kopi sianida.
Sebanyak 96.000 frame video hilang secara misterius, menimbulkan pertanyaan besar tentang kebenaran vonis yang dijatuhkan pada Jessica Wongso.
Baca Juga: Menguak Alasan Jessica Kumala Wongso Dibebaskan Bersyarat Usai Vonis 20 Tahun Kasus Kopi Sianida
Jessica Wongso sendiri sudah divonis bersalah meracuni Mirna Salihin menggunakan sianida dalam sebuah minuman kopi.
Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2016 dan sempat menjadi sorotan nasional.
Akibat tersandung kasus tersebut, Jessica Wongso harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan akhirnya menjalani persidangan.
Baca Juga: Jessica Wongso Bebas, Ini 9 Kejanggalan Kasus Kopi Sianida yang Menewaskan Mirna Salihin
Sidang kasus kopi sianida yang menewaskan Wayan Mirna Salihin berujung pada vonis 20 tahun penjara terhadap Jessica Kumala Wongso.
“Menyatakan terdakwa Jessica Kumala Wongso terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan pembunuhan berencana,” kata Hakim Ketua, Kisworo pada (27/10/2016) silam.
Meski kasus sudah ditutup, sejumlah kejanggalan kematian Mirna masih menjadi perdebatan.
Baca Juga: Profil Jessica Wongso, Terpidana Kopi Sianida yang Bebas Bersyarat Usai Divonis 20 Tahun Penjara
Rismon Sianipar, seorang ahli forensik digital mengungkap fakta mengejutkan terkait kasus kematian Mirna Salihin.
Dalam investigasinya, Rismon menemukan adanya manipulasi besar-besaran pada rekaman CCTV kafe Olivier.
Sejumlah kejanggalan ditemukan dalam rekaman tersebut. Salah satu yang paling mencolok adalah hilangnya 96.000 frame video pada momen krusial saat barista, Rangga Dwi, menyajikan kopi Vietnam kepada Jessica Wongso di meja nomor 54.
Baca Juga: Jessica Wongso Bebas Bersyarat: Misteri Kopi Sianida Segera Terungkap?
“Saya tangkap basah, saat Rangga menyajikan kopi itu ada 96.000 ribu frame (video CCTV) hilang,” ungkap Rismon. “Sekitar 1 jam durasi hilang,” imbuhnya.
Rismon menduga bahwa hilangnya frame video tersebut merupakan upaya untuk menghilangkan bukti penting yang dapat mengungkap kebenaran di balik kasus kopi sianida.
Ia juga meragukan keaslian data forensik yang telah dirilis oleh pihak kepolisian.
“Total frame video seharusnya lebih dari 100 ribu, namun yang ditemukan hanya sekitar 2.700-an. Ini sangat mencurigakan,” tegas Rismon.
Selain hilangnya 96.000 frame video, kejanggalan lain juga ditemukan dalam rekaman CCTV.
Sorotan kamera yang seharusnya menangkap secara detail gerak-gerik Jessica Wongso saat berada di meja nomor 54 justru hilang.
Baca Juga: Cara Mudah Cek Kartu Keluarga (KK) Secara Online
Hal ini sangat mencurigakan, mengingat momen tersebut merupakan titik krusial untuk membuktikan apakah Jessica benar-benar memasukkan sianida ke dalam kopi Mirna.
“Jika Jessica yang memasukkan sedotan ke gelas, jika dia melakukan pergerakan memasukkan sianida, menyejajarkan paper bag dan lain-lain. Kenapa kau kaburkan (videonya)?” ungkap Rismon Sianipar dengan nada tegas.
“Tinggal zoom, selesai sudah masalah. Jika terbukti bersalah, Jessica bisa dijatuhi hukuman mati,” tambahnya.”
Baca Juga: CASN 2024 Resmi Dibuka 19 Agustus, Ini Bocoran Formasi PPPK Khusus Tenaga Honorer
Kejanggalan ketiga yang ditemukan adalah kualitas rekaman CCTV yang buruk pada saat kejadian.
Padahal, berdasarkan spesifikasi kamera yang digunakan, seharusnya video yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi.
Kamera tersebut memiliki jarak pandang 12 meter dengan resolusi 2 juta piksel per frame dan laju frame 25 frame per detik.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa rekaman pada momen krusial justru menjadi buram?
Dengan spesifikasi tersebut, seharusnya sangat mudah untuk menangkap gambar yang jelas, terutama pada jarak sedekat 12 meter.
“Ada tiga kemungkinan penambahan sianida: saat kopi disajikan oleh barista, saat Jessica berada di meja 54, atau setelah kejadian,” ujar Rismon Sianipar.
“Namun, mengapa rekaman pada saat Jessica berada di meja 54 justru dikaburkan? Jika memang ingin membuktikan bahwa Jessica adalah pelakunya, seharusnya rekaman tersebut diperjelas,” tegasnya.