

inNalar.com – Masyarakat Indonesia pastinya sudah tidak asing lagi dengan tambang emas yang ada di Papua.
Jika ditelusuri, ternyata di Banyuwangi Jawa Timur juga memiliki tambang mineral yang serupa.
Tidak hanya itu, bahkan tambang mineral tersebut juga jadi salah satu yang terbesar di Indonesia.
Lahan yang dikelola untuk melakukan pertambangan itu pun cukup luas, karena areal lahannya mencapai 4.998 hektar di hutan produksi Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.
Akan tetapi, lahan yang dimanfaatkan untuk melakukan tambang emas tersebut hanya seluas 992 hektar.
Sementara itu perusahaan yang mengelola pertambangan tersebut adalah PT Bumi Sukesindo (BSI), yang merupakan bagian dari grup Merdeka.
Berdasarkan sejarah, sebenarnya BSI telah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan Operasi dan Produksi sejak 2012.
Namun perusahaan tersebut mulai membangunnya sejak tahun 2014, dan baru melakukan pertambangan pada tahun 2016.
Sedangkan hasilan emas yang diperolehnya yaitu pada tahun 2017, hingga menjadi salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia.
Adapun hasilan mineral yang diperoleh dari tambang ini yaitu seperti emas dan perak.
Walau begitu, ternyata hasilan emas yang diperoleh dari tambang tersebut mulai menurun.
Disebut menurun, sebab pada tahun 2017 hasilan produksi yaitu sebanyak 3-4 gram emas dari pengolahan 1 ton ore.
Akan tetapi, saat ini rata-rata emas yang didapat hanya mencapai 0,8 gram dari 1 ton ore.
Usut punya usut, ternyata tambang yang berada di daerah Jawa Timur tersebut izin usahanya sudah habis pada tahun 2022 kemarin.
Namun untuk memperpanjang operasi pertambangan, BSI justru menemukan mineral lain yaitu tembaga.
Maka dari itulah BSI melakukan perpanjangan operasi hingga tahun 2027 mendatang.
Ditambah saat ini tembaga juga akan semakin banyak dicari, mengingat kendaraan mobil listrik sudah semakin marak diperjual belikan.
Hanya saja, karena emas yang dihasilkan dari tambang di Banyuwangi ini menurun, maka BSI akan mengubah sistem pertambangan.
Sebelumnya, perusahaan ini melakukan sistem pertambangan terbuka.
Setelah melakukan studi kelayakan, diperkirakan pada tahun 2028 BSI akan mengubah sistem pertambangannya menjadi pertambangan bawah tanah.
Belum berhenti disitu saja, karena hasilan emas di tambang Banyuwangi ini mulai menipis, bahkan BSI akan menjadikan tembaga adalah hasilan mineral utamanya.
Dengan kata lain, emas dan perak nantinya akan menjadi produksi sampingan dari tambang yang ada di daerah Jawa Timur ini.
Adapun nama dari penghasil emas yang kini mulai menurun produksinya adalah Tambang Emas Tujuh Bukit.
***