

inNalar.com – Rambu Solo merupakan proses pemakaman unik di Tana Toraja, Sulawesi Selatan yang menghabiskan dana miliaran rupiah.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi orang yang meninggal, masyarakat Tana Toraja Sulawesi Selatan menjadikan Rambu Solo sebagai upacara adat kematian yang sarat makna.
Upacara Rambu Solo di Tana Toraja, bertujuan untuk menghantarkan arwah seseorang yang telah meninggal ke alam selanjutnya.
Baca Juga: Masjid di Jawa Tengah Ini Berbentuk Seperti Kapal Nabi Nuh, Lokasinya 25 Km dari Venetia van Java
Nama lain dari upacara kematian Rambu Solo di Tana Toraja adalah Aluk Rampe Matampu.
Jika diteliti dari segi makna, Rambu Solo yang merupakan upacara kematian di Tana Toraja memiliki arti, sinar yang arahnya ke bawah.
Yang mana, upacar kematian di Tana Toraja tersebut biasanya dilakukan ketika matahari terbenam.
Sinar matahari yang mulai meredup diartikan sebagai rasa duka atas orang terkasih yang telah usai tutup usia.
Alasan dari upacara Rambu Solo di Tana Toraja ternyata bertujuan untuk menyempurnakan kematian seseorang.
Karena menurut kepercayaan masyarakat Tana Toraja, jika pihak keluarga tidak melakukan upacara tersebut, maka akan didatangi karma.
Baca Juga: Banjarmasin ‘Kota Seribu Sungai’ Ternyata Menjadi Daerah Termiskin di Kalimantan Selatan
Begitupula bagi orang yang meninggal, menurut kepercayaan masyarakat Tana Toraja arwah seseorang tersebut belum sepenuhnya pergi.
Yang langkanya, ternyata upacara Rambu Solo di Tana Toraja tersebut memakan biaya yang tak sedikit.
Karena di setiap sesi upacara, pihak keluarga harus mengadakan penyembelihat kerbau ataupun babi dalam jumlah yang tak sedikit.
Tak hanya itu, ternyata upacara Rambu Solo di Tana Toraja juga memakan waktu yang tak sebentar.
Jika ditelusuri, menurut sumber web bpkpenabur.or.id, upacara Rambu Solo di Tana Toraja bisa menghabiskan selang waktu selama tiga hingga tujuh hari.
Biasanya upacara Rambu Solo di Tana Toraja tersebut dilaksanakan pada akhir bulan, yaitu di bulan Juli dan Agustus.
Banyak wisatawan mancanegara yang ikut menyaksikan upacara kematian di Tana Toraja tersebut, sehingga upacara Rambu Solo menjadi salah satu daya tarik budaya di Sulawesi Selatan.***