

inNalar.com – Siapa sangka megaproyek kepunyaan Sumatera Selatan, yaitu Jalan Tol Palembang-Indralaya ini termasuk dalam daftar infrastruktur dengan desain paling canggih.
Tidak heran jika investasi pembangunan megaproyek jalan tol yang bermula dari Palembang, Sumatera Selatan ini menelan dana hingga Rp12,5 triliun.
Disebut canggih, karena proyek ini dibangun oleh Hutama Karya dengan menerapkan teknologi Building Information Modeling (BIM).
Selain itu, kecanggihan desain yang bikin Jalan Tol Palembang-Indralaya-Prabumulih ini paling beda adalah desain strukturnya yang dibangun dari lapisan busa.
Maksudnya, desain megaproyek jalan tol di Sumatera Selatan ini dibangun dengan Teknologi Geofoam.
Kecanggihan ini bukan sekadar kebanggaan dan prestise desain infrastrukturnya belaka.
Namun karena mempertimbangkan tanah pijakan lokasi proyek yang terbilang labil.
Itulah mengapa ruas tol ini punya desain struktur yang berbeda dari kebanyakan infrastruktur jalan lainnya di Indonesia.
Tidak berhenti di situ saja, kecanggihannya juga terletak pada fitur Weight in Motion (WIM).
Jadi pihak pengelola Jalan Tol Palembang – Indralaya ini punya timbangan WIM yang ditanam di bawah lintasan agar bisa mengetahui berat beban kendaraan besar.
Fitur ketiga yang dilekatkan pada jalan tol di Sumatera Selatan ini juga sebelumnya sudah diterapkan di Gerbang Tol Bakauheni, Lampung.
Kendati dibangun canggih, rupanya kinerja megaproyek yang satu ini belum sesuai ekspektasi.
Hal tersebut ditangkap saat Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) Wahyu Sanjaya bertandang ke lokasi Jalan Tol Palembang-Indralaya, Sumatera Selatan.
Sedikitnya terdapat satu hal yang paling disorot dari megaproyek ini.
Rupanya traffic jalan tol di sepanjang ruas Palembang hingga Indralaya belum membuahkan hasil maksimal alias masih sepi.
Lebih lanjut, Wahyu memberikan pandangannya mengenai permasalahan tersebut.
Menurutnya, kinerja jalan tol yang belum maksimal tersebut masih dikategorikan wajar.
Alasannya cukup logis, ruas tol sepanjang 65 kilometer ini baru terkoneksi hingga Prabumulih.
Sementara daerah strategis di Sumatera Selatan justru berada di Lahat, Muara Enim, Empat Lawang, dan Libuk Linggau.
Menurutnya, wajar ketika traffic lintasan ini masih sepi, karena pada akhirnya masyarakat masih lebih memilih ambil jalan nasional.
Sederhananya karena jalan tol di Sumatera Selatan ini belum selesai pengerjaannya.
“Memang kalau kita lihat di sini, load traffic-nya masih rendah karena jalan tol ini sendiri belum selesai dari ruas yang diharapkan,” tutur Wahyu selaku Ketua BAKN, dikutip inNalar.com dari Parlementeria DPR RI.
Maksudnya proyek jalan tol yang dimulai dari Palembang baru mentok di Prabumulih.
Ruas tol Sumatera Selatan ini belum sempurna menyambung seluruh seksinya.
Sejauh ini, Kementerian PUPR bersama Hutama Karya baru merampungkan Jalan Tol Palembang Indralaya Seksi I.
Sementara proyek ini belum berlanjut ke seksi II dari Prabumulih menuju Muara Enim.
Kendati demikian, Pemerintah RI akan terus menggenjot penyelesaiannya hingga jalan tol di Sumatera Selatan dapat tersambung hingga Muara Enim.
Pasalnya, potensi ekonomi andalan daerah tersebut justru berada di Lahat dan Muara Enim.
Keberlimpahan produksi sayur-mayur, kopi, teh hingga hasil bumi lainnya di kedua daerah tersebut sangat potensial bersaing dengan daerah lainnya di Sumatera Selatan.
Tentu apabila lintasan tol ini berhasil rampung, biaya dan waktu distribusi akan efisienkan berbagai industri di daerahnya.
Dengan demikian, menjamin kelanjutan proyek jalan tol hingga Muara Enim adalah satu-satunya kunci penyelesaian masalah traffic yang masih belum sesuai ekspektasi.
Jika hal tersebut bisa dicapai, maka tentu persoalan traffic yang masih lesu di jalan tol paling canggih di Sumatera Selatan ini bisa terselesaikan.***