Gandeng Jepang, Smelter Alumina Rp7,6 Triliun di Kalimantan Barat Ini Diklaim Jadi yang Pertama Berdiri, Produksinya Cuma…

InNalar.com – Akhir-akhir ini pemerintah tengah banyak membangun pabrik guna mengolah hasil mineral yang telah ditambang di dalam negeri.

Ternyata smelter alumina pertama yang ada di Indonesia itu ada di Kalimantan Barat, dan bekerja sama dengan Jepang.

Tepatnya tempat pengolahan hasil mineral itu ada di Kecamatan Tayan, Kabupaten Sanggau.

Baca Juga: Wajib Lunas 2024! Pemerintah Provinsi NTT Ternyata Punya Utang Menggunung Capai Rp1,3 Triliun?

Dilansir InNalar.com dari situs resmi PT ICA, pemilik dari tempat pengolahan hasil mineral ini adalah PT Indonesia Chemical Alumina (ICA).

Akan tetapi, dalam membangun tempat pengolahan mineral tersebut, ternyata harus ada 3 desa yang dikorbankan untuk membuat tempat produksi ini.

Pasalnya, bangunan milik PT ICA ini luasnya mencapai 288 hektar.

Baca Juga: IHSG Longsor Sampai 1 Persen, Begini Penyebab dan Saham Apa Saja yang Ikut Anjlok, Ada PGEO dan BRPT!

Sekedar informasi, ICA sendiri merupakan anak perusahaan dari BUMN.

Sedangkan perusahaan itu sendiri juga merupakan perusahaan patungan antara Antam dengan SDK yang adalah perusahaan Jepang.

Pada awalnya, saham yang dipegang oleh kedua perusahaan itu yaitu sebesar 80% dan 20%.

Baca Juga: Serap 12 Ribu Pekerja, Smelter Rp67 Triliun di Sulawesi Tenggara Ternyata Produksi Bahan Baterai Listrik, Produksinya…

Namun pada akhirnya kepemilikan saham itu jadi 100% milik antam pada tahun 2018.

Berdasarkan sejarahnya, perusahaan yang memproduksi Chemical Grade Alumina (CGA) adalah PT ICA.

Walau perusahaan ini adalah yang memprakarsai adanya smelter alumina, namun hasil produksinya dapat dibilang cukup fantastis.

Baca Juga: Pembangunannya Habiskan Rp300 Miliar, KA Minangkabau Ekspress di Sumbar Punya Tarif yang Murah Banget, Berapa?

Karena tempat pengolahan mineral yang diambil dari Bauksit ini mampu memproduksi hingga 300 ribu ton per tahun.

Dalam menghasilkan CGA, smelter alumina ini membutuhkan bauksit sebanyak 1,7 ton.

Mampu memproduksi bauksit sebanyak itu, tentu karena smelter alumina ini sendiri juga menyerap anggaran yang besar dalam membangunnya.

Baca Juga: Prediksi Ranking BWF: Jonatan Christie Nyaris Salip Anthony Ginting, Bagas-Fikri Cetak Sejarah!

Selama pembangunan, tempat pengolahan alumina pertama di Kalimantan Barat ini mencapai Rp 7,6 triliun.

Sejak tahun 2019 dibangun, diketahui pabrik pengolahan mineral ini telah beroperasi sejak 2022.

Tidak hanya jadi yang pertama, bahkan dengan luas 288 hektar smelter alumina ini juga jadi yang terbesar di dunia. ***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]