

inNalar.com – Greenflation atau green inflation saat ini tengah menjadi perbincangan yang cukup hangat di tanah air.
Dandy Rafitrandi selaku peneliti ekonomi dari CSIS Centre for Strategic and International Studies sendiri telah mengungkap bagaimana langkah untuk mencegah green inflation atau inflasi hijau.
Istilah ini sendiri semakin mencuat sejak acara debat keempat cawapres lalu pada 21 Januari 2024, Istilah tersebut sempat ditanyakan Gibran Rakabuming (paslon nomor urut 2) kepada Mahfud MD (paslon nomor urut 3).
Melansir dari Antara, Dandy Rafitrandi menjelaskan bahwa persoalan tersebut dapat dicegah melalui pemberian insentif kepada teknologi maupun barang dalam transisi energi hijau.
Menurutnya apabila ingin mencegah inflasi hijau di Indonesia, maka salah satu cara yang bisa diterapkan yakni pemerintah memberikan fasilitas bagaimana agar tarif impor jauh lebih murah untuk barang/teknologi energi baru terbarukan (EBT).
Pasalnya, saat ini tanah air mempunyai tarif impor yang begitu tinggi bagi barang-barang ramah lingkungan.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia termasuk masih menetapkan tarif impor cukup tinggi. Terutama bagi barang maupun teknologi yang ramah lingkungan untuk transisi energi hijau.
Perlu diketahui pula bahwa green inflation akan terjadi saat pemerintah mulai beralih memakai energi baru terbarukan atau EBT.
Termasuk dengan cara menggunakan barang-barang yang jauh lebih ramah lingkungan sehingga harganya relatif jauh lebih tinggi.
Hal ini menjadi sebuah konsekuensi tersendiri ketika sebuah negara mulai beralih memakai EBT. Hal tersebutlah yang merupakan green inflation.
Terlebih, tren greenflation ini sendiri tidak hanya terjadi di Indonesia. Akan tetapi juga telah terjadi di tingkat global.
Tren tersebut bahkan dapat berkaitan dengan kondisi geopolitik di berbagai negara yang masih terus memanas hingga saat ini.
Seperti revalitas Amerika Serikat – Tiongkok serta perang Rusia – Ukraina. Adanya masalah geopolitik tersebut juga dapat menyebabkan harga barang-barang maupun teknologi penting menjadi sangat mahal.
Adanya transisi menuju barang/teknologi hijau yang diterapkan pun menjadi sebuah ketakutan tersendiri bagi pemerintahan di seluruh dunia.
Itulah mengapa transisi energi ini penting dilakukan secara hati-hati. Jika tidak, maka akan menyebabkan cost atau biaya berlebih dalam penggunaannya terutama bagi para konsumen.
Dandy juga menjelaskan bahwa pemerintah dapat mencegah green inflation dengan melihat barang maupun teknologi yang diperlukan dalam transisi menuju EBT ini.
Hal tersebut perlu diperhatikan baik itu oleh konsumen maupun produsennya. Terutama dalam hal komponen-komponen untuk menghasilkan barang ramah lingkungan.
Termasuk di bidang industri EBT tanah air. Pemerintah perlu memberikan fasilitas atau insentif melalui regulasi yang memudahkan barang/produk ramah lingkungan ini di Indonesia.
Menurutnya, hal ini dapat memastikan bahwa barang-barang tersebut mampu dijual dan dikonsumsi dengan harga jauh lebih terjangkau bagi masyarakat.
Terlebih Indonesia juga termasuk negara yang ingin mencapai target Net Zero Emission atau NZE 2060 lewat beberapa strategi percepatan transisi energi.***