Dikira Elit Ternyata Sulit! Survei Membuktikan Gaji Dosen di Indonesia di Bawah Standar

inNalar.com  Warganet kembali dikejutkan oleh hasil penetilian The Conversation yang menyatakan bahwa rata-rata dosen di Indonesia digaji di bawah standar. Jika sebelumnya hanya sebatas rumor, penelitian pertama di isu ini benar-benar menjadi dasar betapa kesejahteraan dosen Indonesia perlu lebih diperhatikan.

Penelitian tersebut melibatkan gabungan cendekiawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Mataram (Unram) tersebut memetakan kondisi kesejahteraan dosen yang ada di Indonesia.

Mereka mencoba memperjuangkan keadilan dari 300.000 dosen yang tersebar di 4.600 universitas dengan berbagai macam status kepegawaian dan ikatan kerja. Unifikasi inilah yang membuat pendataan seperti ini sulit untuk dilakukan sebelumnya.

Baca Juga: 5 Penyebab Judul Skripsi Ditolak Dosen Pembimbing, Mahasiswa Semester Akhir Jangan Sampai Melakukannya

Selain itu, permintaan kualifikasi yang semakin tinggi, beban administrasi yang kerap tidak masuk akal, dan tuntutan publikasi yang terkesan menyiksa tidak sebanding dengan kesejahteraan yang didapatkan.

Slogan publish or perish (perbanyak publikasi atau anda akan terlindas) ala persaingan pasar universitas elit, tidak serta merta dapat diikuti tanpa adanya keseimbangan pembagian tugas serta tunjangan yang adil.

Menurut penelitian tersebut, hanya 2% saja yang sangat setuju bahwa pendapatan bulanannya sesuai dengan pekerjaannya. Dan hanya 3,2% yang merespon dengan sangat setuju atas pernyataan bulanannya sesuai dengan kualifikasinya.

Baca Juga: Anies Baswedan Bagikan Momen saat Berikan Kuliah Tamu pada Ruangan Bersejarah di University of Oxford

Bayangkan untuk mengejar permintaan ranking dan akreditasi yang menyita begitu banyak waktu dan pikiran, 42,9% dosen menerima pendapatan tetap di bawah Rp 3 juta per bulan. Padahal, rata-rata upah minimum provinsi (UMP) di Indonesia pada 2023 berkisar pada angka Rp 2.910.632.

Walaupun 53,6% dari dosen menerima insentif presentasi, publikasi, dan lainnya, nominal itu masih di bawah Rp 1 juta per bulan. Sertifikasi dosen pun hanya sekali kali jumlah gaji pokok. Itupun harus melewati masa kerja 4 tahun.

Padahal, 73,7% partisipan mengaku harus menanggung biaya hidup keluarganya. Ada dari mereka (55,4%)  yang mengungkapkan harus mengeluarkan biaya hidup Rp 3-10 juta bahkan, ada pula (12,2%) yang lebih dari Rp 10 juta per bulan.

Jumlah tersebut harus sudah dapat mengkover biaya keamananan sosial, dana darurat, risiko kecelakaan, potensi phk, pendidikan anak, kesehatan, serta beberapa porsi untuk hiburan sesuai standar ILO Organisasi Perburuhan Dunia (ILO).

Baca Juga: Mahasiswa Wajib Tahu! 4 Beasiswa Menarik untuk Kuliah di Luar Negeri, Kuotanya Ada yang Sampai 70 Ribu Lho

Hal ini berarti selain menanggung beban depresi akibat tekanan dari kantor untuk menuju perguruan tinggi yang bermutu dan berarti, mereka juga masih harus memikirkan biaya hidup keluarga lainnya.

Padahal menurut data BPS, Garis Kemiskinan di Indonesia pada September 2022 mencapai Rp535.547,00/kapita/ bulan.

Hal ini berarti jika seorang dosen dalam satu kepala keluarga hanya dirinya yang bekerja serta mengampu dirinya, 1 istri, 2 anak, dan 2 orang tua, mandapatkan gaji dibawah 3 juta, berarti mereka dapat dikategorikan dalam hitungan keluarga pra sejahtera.

Citra dosen yang terkesan elit di masyarakat awam, sepertinya harus lebih banyak berjibaku dengan sulit untuk menyelamatkan perapian rumah mereka. Inilah yang membuat 87% partisipan survei untuk siap bergabung dengan serikat dosen yang belum terbentuk sebelumnya.

Akhir dari laporan tersebut, tim peneliti memberikan pernyataan bahwa dosen merupakan profesi yang sangat menentukan kualitas pendidikan dan riset Indonesia, sekaligus kelompok buruh yang rentan dan memerlukan perlindungan.***(Dadang Irsyamuddin)

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]