Bab 5 Subbab Kegiatan 2, Kunci Jawaban Soal Bahasa Indonesia kelas 10 SMA Hal. 204 Kurikulum Merdeka Edisi Revisi

inNalar.com – Kita akan mengupas tuntas kunci jawaban Bab 5, khususnya pada subbab Kegiatan 2 di halaman 204. Bagian ini memuat tugas mandiri yang menantang siswa untuk menyusun teks biografi dalam bentuk narasi sederhana tentang tokoh pahlawan Indonesia.

Tugas kegiatan 2 pada bab 5 ini sekadar merangkai kata-kata, melainkan sebuah perjalanan intelektual untuk menggali jejak para patriot yang telah mengukir sejarah dengan darah, keringat, dan pemikiran mereka.

Dengan tugas ini, siswa tidak hanya belajar menulis biografi, tetapi juga menyelami jiwa kepahlawanan yang terkandung di dalamnya—memahami bahwa di balik setiap nama besar dalam sejarah, terdapat perjuangan tidak kenal lelah untuk membangun pondasi bangsa.

Baca Juga: Bab 6 Berkarya dan Berekspresi Melalui Puisi, Kunci Jawaban Bahasa Indonesia kelas 10 SMA Hlm. 226 Kurikulum Merdeka Edisi Revisi

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 SMA Kurikulum Merdeka Halaman 204 “Kegiatan 2”

Soal:

Setelah memahami secara keseluruhan teks biograi, kalian diharapkan mampu menulis teks biografi dalam bentuk narasi sederhana berkisar 700 hingga 1.500 kata melalui penelitian sederhana. Kalian dapat melakukannya dengan cara mengutip atau mencantumkan sumber rujukan yang jelas.

Jawaban:

Baca Juga: Bolehkah Muslim Nonton Mukbang ASMR saat Puasa Ramadhan? Begini Kata Ustadz Wijayanto

Tan Malaka: Bapak Republik yang Terlupakan

Di antara tokoh-tokoh besar yang mengukir sejarah perjuangan Indonesia, ada satu nama yang sering terpinggirkan dari sorotan utama, padahal pemikirannya bagaikan mercusuar yang menerangi jalan panjang menuju kemerdekaan. Dialah Tan Malaka, seorang pemikir revolusioner, penulis brilian, dan pejuang yang tak kenal lelah dalam membela hak-hak rakyat. Meski namanya tak selalu disebut dalam arus utama sejarah nasional, warisannya tetap abadi sebagai api yang tak pernah padam.

Tan Malaka lahir dengan nama Ibrahim pada 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Sumatra Barat. Sejak kecil, ia telah menunjukkan kecerdasan luar biasa yang membuatnya mendapat kesempatan langka untuk menempuh pendidikan di Kweekschool (Sekolah Guru) di Bukittinggi. Namun, kecerdasannya yang melampaui zamannya membawanya lebih jauh: ia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Rijkskweekschool di Haarlem, Belanda. Di negeri yang jauh dari tanah airnya itulah pemikirannya mulai ditempa oleh berbagai ideologi, terutama Marxisme, yang kelak menjadi fondasi perjuangannya.

Saat kembali ke Indonesia, Tan Malaka melihat langsung bagaimana rakyatnya tertindas oleh penjajahan. Namun, alih-alih diam atau mengikuti arus, ia memilih jalannya sendiri—jalur yang penuh duri, tetapi berlandaskan keyakinan teguh pada kemerdekaan. Ia aktif dalam dunia pergerakan dan mendirikan Sekolah Rakyat di Semarang untuk memberikan pendidikan bagi kaum miskin, karena ia percaya bahwa kebebasan sejati hanya bisa diraih lewat kecerdasan.

Baca Juga: Masjid Terpopuler di Jogja Ini Berbagi Takjil Gratis 4.000 Porsi saat Ramadhan, Anggaran Hariannya Fantastis!

Namun, kegigihannya berujung pada pengasingan. Belanda melihatnya sebagai ancaman dan mengusirnya dari Indonesia. Tak patah arang, Tan Malaka menjelajahi berbagai negara—mulai dari Filipina, Tiongkok, hingga Uni Soviet—menyusun strategi perjuangan dan menyebarkan ide-idenya tentang revolusi dan kemerdekaan Indonesia. Ia hidup dalam bayang-bayang intelijen yang terus mengintainya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi pikirannya tetap tajam dan tujuannya tak pernah goyah.

Tan Malaka adalah seorang penulis ulung. Salah satu karya monumentalnya, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), adalah bukti kecemerlangan intelektualnya. Buku ini bukan sekadar tulisan biasa; ia adalah manifesto pemikiran yang membongkar belenggu dogma dan mengajarkan cara berpikir kritis bagi rakyat yang haus akan kebebasan. Dengan kata-kata yang tajam bak belati, Tan Malaka menantang pola pikir lama dan menggugah kesadaran nasional.

Sayangnya, pemikirannya yang revolusioner justru membuatnya dianggap sebagai sosok yang berbahaya oleh banyak pihak, termasuk sesama pejuang kemerdekaan. Dalam pusaran politik yang kacau pasca-kemerdekaan, ia dipandang sebagai ancaman, meskipun apa yang diperjuangkannya sejak awal adalah Indonesia yang benar-benar merdeka dan berdaulat.

Baca Juga: Bingung Cari Tempat Ngabuburit di Surabaya? Ini 10 Lokasi Paling Hits: Ke-5 Paling Syahdu, No. 8 Kesukaan Anak-anak!

Nasib Tan Malaka berakhir tragis. Setelah kembali ke Indonesia dan berusaha mengambil peran dalam politik nasional, ia ditangkap dan dieksekusi pada tahun 1949 di Kediri oleh tentara Republik yang ironisnya berjuang untuk negara yang ia cita-citakan. Sejarah seolah-olah menelannya dalam gelap, dan namanya sempat tenggelam dalam narasi besar perjuangan kemerdekaan.

Namun, sejarah sejati tak bisa dilenyapkan begitu saja. Perlahan, nama Tan Malaka mulai diangkat kembali sebagai sosok yang tak hanya berjuang dengan senjata, tetapi juga dengan pemikiran dan gagasan yang melampaui zamannya. Pada tahun 1963, ia diakui sebagai Pahlawan Nasional, meskipun namanya masih belum sepopuler tokoh-tokoh lain dalam buku pelajaran sekolah.

Meskipun ia telah tiada, gagasan-gagasannya tetap hidup. Tan Malaka bukan hanya seorang pejuang, tetapi juga simbol keberanian intelektual. Ia mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar lepas dari belenggu kolonialisme, tetapi juga kebebasan berpikir dan bertindak untuk membangun bangsa yang lebih adil dan cerdas.

Baca Juga: Masjid Terpopuler di Jogja Ini Berbagi Takjil Gratis 4.000 Porsi saat Ramadhan, Anggaran Hariannya Fantastis!

Mungkin ia bukan tokoh yang sering disebut dalam pidato resmi atau terpampang dalam poster besar di ruang kelas. Namun, Tan Malaka adalah bukti bahwa sejarah bukan hanya tentang mereka yang menang dalam perebutan kekuasaan, tetapi juga tentang mereka yang berani berpikir jauh ke depan, melampaui batas zamannya. Seperti bara api yang tersembunyi di balik abu, warisannya menunggu untuk kembali menyala dalam jiwa-jiwa muda yang ingin memperjuangkan kebenaran.

Sumber Rujukan:
Malaka, Tan. Madilog. Jakarta: Narasi, 1943.

Kahin, George McTurnan. Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1952.

Legge, J.D. The Communist Party of Indonesia, 1920-1942. Berkeley: University of California Press, 1964.

Dengan demikian, pembahasan mengenai kunci jawaban Bab 5, khususnya pada subbab Kegiatan 2 di halaman 204 buku Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka, telah kita kupas secara mendalam. ***