

InNalar.com – Terdapat proyek infrastruktur bendungan yang mangkrak di provinsi Aceh dan akan dikerjakan kembali.
Infrastruktur tersebut berada di Kabupaten Aceh Utara, dan telah tidak dikerjakan sejak Januari 2023.
Padahal sebenarnya infrastruktur yang berada di perbatasan Desa Leubok Tuwe Kecamatan Meurah Mulia cukuplah penting bagi masyarakat sekitar.
pasalnya infrasstruktur penampungan air ini nantinya mampu mengaliri lahan pertanian seluas 8.922 hektar.
Tepatnya, tempat penampungan ini mampu mengaliri Pasee Kiri seluas 3.308 hektar dan Pasee Kanan 5.614 hektar.
Sementara itu untuk menampung airnya, infrastruktur ini nantinya akan membendung dari aliran sungai Krueng Pasee.
Sungai Krueng Pasee merupakan jenis Sungai Alluvial, yang mana saat saluran pengelak tergerus dari cuaca ekstrem maka akan berpotensi merusak seperti rumah, Pompa, Jembatan Bailey, dan banyak lagi.
Maka dari itulah infrastruktur tempat penampungan air merupakan satu bangunan yang diperlukan, agar hal buruk tersebut tidak terjadi.
Walaupun seperti itu, ternyata pembangunan infrastruktur ini malah mangkrak sejak Januari 2023 dan hingga kini belum dikerjakan.
Hingga saat ini diketahui progresnya juga baru 36.71% yang seharusnya telah mencapai 70,20% saat terjadi putus kontrak.
Meski begitu, Penyelesaian Rehabilitasi bendungan di kabupaten Aceh Utara juga sudah jadi salah satu prioritas Direktorat Jenderal SDA Kementerian PUPR pada Tahun Anggaran 2024 seperti yang dilansir dari laman PUPR.
Sebab sejak putus kontrak hingga proyek ini tak dikerjakan lagi, pemerintah telah melakukan tender ulang pada 30 Oktober 2023 kemarin.
Tender ulang tersebut dilakukan dengan jumlah nilai pagu yang bersumber dari APBN 2024 sebesar Rp 28,5 miliar.
Berdasarkan target yang diharapkan, nantinya proyek mangkrak ini pada minggu pertama Januari 2024 telah teken kontrak.
Sedangkan untuk target penyelesaiannya diharapkan bisa rampung pada minggu kedua Desember 2024.
Karena jika target ini bisa terealisasikan, maka pada musim tanam Januari 2025 lahan para petani seluas 8.922 hektar sudah dapat teraliri air.
Bagaimana tidak, infrastruktur ini saja merupakan bangunan vital bagi para petani di 8 kecamatan yang terdapat di kabupaten Aceh Utara dan 1 kecamatan di Lhokseumawe. ***