Alasan Fans Argentina Terkenal Paling Rasis di Piala Dunia 2026

inNalar.com – Ada pemandangan yang membuat kita mengernyitkan dahi di sela-sela gegap gempita Piala Dunia 2026. Alih-alih hanya merayakan gol atau performa tim, sorotan justru tertuju pada insiden tak sedap yang melibatkan streamer kenamaan, IShowSpeed, dan oknum suporter Argentina, Kamis (16/7/2026).

Dalam sebuah livestream di stadion, IShowSpeed menjadi sasaran hinaan rasial yang terang-terangan, mulai gestur monyet dan seruan untuk “pergi menangis di kebun binatang”.

Kejadian ini seperti memicu alarm global. FIFA langsung turun tangan, menyatakan bahwa diskriminasi tidak punya tempat di lapangan hijau dan membuka investigasi resmi.

Namun, di balik kegaduhan tersebut, muncul pertanyaan besar, apakah ini hanya sekadar ulah segelintir orang, atau ada masalah yang jauh lebih dalam di kultur fans Argentina?

Kejadian yang menimpa IShowSpeed di Piala Dunia 2026 sebenarnya bukan kasus tunggal. Hal ini merupakan puncak gunung es dari ketegangan antara fanatisme buta dan norma keberagaman yang coba ditegakkan oleh FIFA.

FIFA sendiri memberlakukan aturan ketat soal clean venue dan inklusivitas, namun kultur suporter yang sudah mengakar selama puluhan tahun di Argentina seolah menjadi benteng yang sulit ditembus.

Bagi suporter di tribun, mungkin mereka merasa apa yang mereka lakukan hanyalah bagian dari psywar untuk menjatuhkan lawan. Tapi bagi dunia luar, itu adalah cerminan rasisme

Akar Masalah

Untuk memahami ini, kita tidak bisa hanya melihat apa yang terjadi di stadion. Ada narasi sejarah yang sering luput dari pembicaraan kita.

Melansir jurnal Oxford University “Argentina and Racism Hidden in Plain Sight” di antara tahun 1880 hingga 1930, Argentina pernah mengusung kampanye “pemutihan” (whitening) bangsa sebagai fondasi identitas nasional.

Tujuannya sederhana namun destruktif, mempromosikan citra Argentina sebagai masyarakat murni Eropa di tengah Amerika Selatan.

Akibatnya, kontribusi penduduk asli dan keturunan Afrika secara sistematis dihapus dari buku sejarah. Proses “pembersihan” identitas ini melahirkan apa yang disebut sosiolog sebagai “kebutaan rasial”.

Banyak suporter mungkin merasa tindakan mereka tidak rasis, bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka tumbuh dalam ilusi bahwa “di Argentina tidak ada orang kulit hitam”.

Hinaan berbasis warna kulit dianggap lazim karena mereka tidak pernah benar-benar belajar menghargai keberagaman secara historis.

Kultur Aguante

Faktor lainnya yang membuat fenomena ini sulit dibendung adalah budaya aguante.

Dalam kamus suporter Argentina, aguante adalah segalanya. Ini soal ketahanan, loyalitas tanpa batas, dan keberanian fisik. Di tribun stadion, aguante diterjemahkan menjadi tindakan-tindakan agresif untuk mendominasi mental lawan.

Sayangnya, dalam budaya yang mengagungkan dominasi ini, nyanyian atau hinaan sekali pun itu berbau rasis, homofobik, atau xenofobik sering dianggap sebagai instrumen verbal yang “sah” untuk memenangkan gairah suporter.

Bagi mereka, ini bukan tentang membenci ras tertentu, tapi tentang membuktikan siapa yang paling berisik dan paling garang.

Ketika nilai-nilai ini beradu dengan aturan FIFA yang modern dan inklusif, benturan tak terelakkan.

Melalui insiden IShowSpeed, dunia sepak bola ingin mengirim pesan keras, bahwa identitas sebuah negara atau kesetiaan suporter tidak boleh dibayar dengan merendahkan orang lain.

Kedepannya, perubahan tentu tidak cukup hanya dengan hukuman dari FIFA. Butuh dekonstruksi budaya di level akar rumput, agar fanatisme tidak lagi disamakan dengan agresi rasial yang usang.

Sepak bola adalah bahasa universal, dan sudah saatnya Argentina meninjau kembali akar budaya suporter mereka yang masih terjebak di masa lalu.