Luasnya Mencapai 22 Hektar, Kawasan Konservasi di Kalimantan Utara Ini Dijuluki Paru-Paru Kota Tarakan

inNalar.com – Tak hanya terkenal akan hasil tambangnya, Provinsi Kalimantan Utara ini juga terkenal akan wisata alamnya.

Salah satu wisata alam di Kalimantan Utara ini berbentuk kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan.

Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan ini lebih dikenal dengan Hutan Mangrove Tarakan.

Baca Juga: Tingkat Polusi Udara Semakin Meningkat, Jakarta Bakal Pertahankan Titel sebagai Kota Berpolusi Tinggi?

Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan berlokasi di Karang Rejo, Tarakan Barat, Karang Rejo, Tarakan Bar, Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Menghadirkan suasana alam yang cukup kental, tetapi lokasi Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan ini berada di tengah kota.

Hal tersebut membuat kawasan ini mudah dijangkau dan ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

Baca Juga: Berada 80 Meter di Atas Jurang, Jembatan Kaca Jawa Timur Ini Suguhkan Panorama 3 Gunung, Berani Lewat?

Jika kalian berkunjung ke Kawasan Konservasi ini, kalian juga bisa melihat Bekantan berkeliaran bebas.

Sebagai informasi, Bekantan merupakan salah satu jenis monyet yang memiliki bentuk hidung yang panjang dan rambutnya berwarna cokelat kemerahan.

Bekantan juga merupakan hewan endemik pulau Kalimantan atau bisa dibilang fauna identitas Provinsi Kalimantan Selatan.

Baca Juga: Pasar Unik di Sulawesi Selatan Ini Jadi Tempat Perdagangan Kuda Pertama dan Terbesar di Indonesia

Di kawasan konservasi mangrove dan Bekantan ini, terdapat sekitar 37 ekor monyet Bekantan.

Berbicara mengenai flora di kawasan konservasi ini, seperti namanya kawasan ini dipenuhi oleh rawa gambut dengan pohon-pohon bakau atau mangrove.

Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan ini dijuluki sebagai paru-parunya Kota Tarakan.

Julukan tersebut disematkan bukan tanpa sebab, kawasan ini memang berfungsi sebagai paru-paru Kota tarakan.

Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan ini menjadi pelindung kota Tarakan dari abarasi air laut.

Selain itu, kawasan ini juga kerap dijadikan sebafai laboratorium hidup bagi para peneliti lokal maupun peneliti dari manca negara.***

 

Rekomendasi