

inNalar.com – Bismillahirrahmanirrahim. Jika anda berfikir, susunan ayat Al Qur’an terpisah-pisah tidak sesuai dengan tema.
Sebenarnya konsepsi yang anda bayangkan kurang tepat, karena Al-Qur’an itu sendiri tidak secara mutlak ayat-ayatnya tumpang tindih satu tema dengan tema lainnya.
Sebenarnya al-Qur’an sudah tersusun secara urut, sekali lagi secara urut bukan terpisah-pisah.
Seperti halnya pada surah al-Baqarah, bagian pertama membahas sifat orang mu’min, dan dilanjutkan dengan membahas sifat orang munafik.
Oleh sebab itu, karena al-Qur’an ini tersusun secara urut, maka para ulama mengenalkan konsep mihwar atau sebuah konsep untuk memahami setiap pokok pembahasan al-Qur’an disetiap juz maupun surahnya.
Lebih jelasnya lagi mengenai konsep mihwar ini, bisa dilihat kitab Syaikh Usama Azhari.
Jadi kesimpulan pada point ini adalah, al-Qur’an tidak secara mutlak ayat-ayatnya terpisah-pisah, melainkan ayat-ayat nya tersusun secara urut.
Dalam kitab Al Itqan fi Ulumil Qur’an karya Imam Jalaludin as-suyuthi disebutkan bahwa, adapun ketika terdapat ayat yang juga membahas hal yang sama, tetapi tidak terletak berurutan.
Maka, ayat tersebut mempunyai kandungan atau tujuan yang berbeda. Bisa sebagai penegasan, penambahan ma’lumat, penjelas, ataupun faktor yang lain sesuai dengan asbab nuzul-nya yang berbeda-beda.
Contohnya bisa dilihat disurah at-Taubah ayat 38 sampai awal juz 11 itu semua menjelaskan sifat-sifat orang munafik.
Pertanyanya, kenapa kok tidak diletakkan bersamaan dengan ayat-ayat mengenai sifat orang munafiq di Al-Baqarah awal?
Sekali lagi karena asbab nuzul atau sebab turunnya ayat tersebut yang berbeda. Pada Qur’an surah at-taubah ayat 38, sebab turunnya ayat tersebut adalah untuk mensifati orang-orang munafiq ketika terjadi perang Tabuk pada abad ke 9 H.
Juga sulit dibayangkan akal kita jika ayat Al-Qur’an diurutkan sesuai tema-tema, padahal waktu turunnya berbeda beda dan faktor yang melatarbelakangi turunnya ayat pun berbeda beda.
Apakah mungkin dalam satu waktu bersamaan para sahabat bertanya detail permasalahan tentan wudhu, sehingga ayat wudhu semua turun ketika itu? Apakah mungkin juga dalam satu waktu bersamaan ada permasalahan sholat sehingga semua ayat sholat turun diwaktu yang bersamaan?
Baca Juga: Menenangkan Diri Menurut Ustadz Abdul Somad: Ketika Hati Kita Tenang, Semuanya yang Lain Mengikuti
Itu semua justru akan memberatkan para sahabat. Ketika dalam satu masa ada permasalahan wudhu turun ayat wudhu, keesokannya permasalahan sholat ,turun ayat sholat, besoknya lagi ada sahabat yang bertanya permasalahan wudhu lagi turun ayat wudhu, dst.
Mana yang lebih memudahkan ketika ada seseorang yang bertanya langsung dijawab saat itu juga atau dikatakan?. “Eh, soal kamu yang bertanya tentang wudhu itu tahun lalu sudah turun ayat akan hal itu!” Itulah, wajah Islam. Selalu menjadi problem solving disetiap keadaan.
Lalu hikmahnya banyak sekali, diantaranya adalah supaya orang Islam lebih intens mentadabburi Al-Qur’an, ibaratnya Puzzle kita harus pandai-pandai merangkai potongan potongan sehingga terangkalilah makna yang utuh.
Jika Al-Qur’an diurutkan per-tema tema umat Islam sangat mudah dong tidak perlu intens tadabbur ayat al-Qur’an, kan sudah tersusun secara urut. Disitulah yang namanya Ibadah, Al-Ujrah bi Qadri Masyaqah.
Dikatakan juga menurut pendapat rajih sebagaimana yang dinuqil Imam Suyuthi didalam kitab Al-Itqan bahwasanya urutan ayat dan surat amrun tauqifi (murni dari Rasulullah SAW yang diperintah oleh Allah SWT)
Imam Suyuthi juga mempunyai kitab khusus mengenai hal ini, yaitu kitab asrar tartibi-l Qur’an.
WaAllahu a’lam.
Semoga bermanfaat.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi