

inNalar.com – Para murid kelas 10 SMA akan dibantu mencari tahu kunci jawaban dari soal yang disajikan dalam buku Bahasa Indonesia.
Perlu dicatat, buku paket yang digunakan dalam rujukan kunci jawaban berikut adalah Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka Edisi Revisi.
Adapun perihal kunci jawaban yang akan dibahas dari buku Bahasa Indonesia kali ini berkenaan tentang teknik penulisan kutipan tidak langsung.
Ada dua soal yang perlu kalian kerjakan dari halaman 23 dan 24. Pada halaman 20 – 22, kalian sudah diajari tata cara penulisannya.
Terdapat dua teknik penulisan kalimat tidak langsung. Sumber informasi penulis dalam laporan hasil observasi bisa berasal dari buku.
Selain itu, penulis juga dapat mendukung hasil observasinya dengan sumber rujukan dari internet dan artikel.
Baca Juga: Imbuhan di-, Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 SMA Halaman 20 Kurikulum Merdeka (Edisi Revisi)
Teknik penulisan kutipan tidak langsung dalam teks yang disediakan dalam buku Bahasa Indonesia ini mulai dari kutipan dalam body text.
Format penulisak kutipan tidak langsung mengacu pada format Chicago Manual Style (CMS) edisi ke-17.
Sebagian yang lainnya juga lebih memilih format American Psychological Association (APA) dan Modern Language Association (MLA).
Setelah ditulis di body text, kutipan tidak langsung perlu ditulis juga dalam daftar pustaka dengan susunan yang sudah dicontohkan pada materi.
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 23-24
Latihan
Baca Juga: Marisa Putri Pulang Dugem Tabrak IRT hingga Tewas, Sang Ibu Datangi Keluarga Korban Minta Damai
Ubahlah informasi berikut menjadi kutipan tidak langsung. Setelah itu, tuliskan sumber kutipan tersebut sesuai dengan aturan!
Soal 1
Semut rangrang bukan sembarang semut. Mereka unik dan berbeda dari jenis semut lainnya. Manusia telah menggunakan jasa mereka dalam perkebunan berabad-abad yang lalu. Tercatat, sekitar tahun 300 Masehi di Canton (Cina), semut ini digunakan untuk mengusir hama pada tanaman jeruk. Orang mengambil sarang-sarang semut ini dari hutan, memperjualbelikannya, lalu meletakkannya di pohon pohon jeruk jenis unggul. Teknik yang sama tetap dilakukan sampai abad ke 12 dan masih diterapkan di selatan Cina sampai saat ini.
Sumber informasi:
Buku engenal Serangga di Sekitar Kita karya S. Djoewari yang diterbitkan oleh Alprin pada tahun 2020. Informasi tersebut terdapat pada halaman 58.
Jawaban:
Hasil kutipan
Semut rangrang telah dimanfaatkan dalam perkebunan sejak tahun 300 Masehi di Canton, Cina, untuk mengusir hama tanaman jeruk. Metode ini melibatkan pengambilan dan penjualan sarang semut dari hutan, yang kemudian ditempatkan pada pohon jeruk unggul. Teknik ini terus digunakan hingga abad ke-12 dan masih dipraktikkan di Cina selatan. (Djoewari, 2020:58)
Penulisan Daftar Pustaka
Djoewari, S. 2020. Mengenal Serangga di Sekitar Kita. Jakarta: Alprin.
Baca Juga: ALHAMDULILLAH Cair Rp 517 Juta! Dua Kabupaten Ini Dapat Dana Desa Terbesar di Sulbar 2024
Soal 2
Pengetahuan rendah yang dimiliki oleh petani apel tentang penggunaan pestisida yang dilakukan secara intensif memberikan peluang mereka untuk bertindak atau berperilaku tidak baik terhadap lingkungannya. Kurangnya pengetahuan mereka tentang serangga polinator yang berfungsi membantu penyerbukan, menyebabkan banyak serangga yang disemprot dengan pestisida. Kurangnya pengetahuan petani apel tentang manfaat tumbuhan penutup tanah tertentu yang merupakan habitat serangga polinator, membuat mereka menyiangi semua tumbuhan penutup tanah dan menjadikannya makanan ternak.
Sumber informasi:
Buku Serangga Polinator karya Budi Purwantiningsih yang diterbitkan oleh Universitas Brawijaya Press pada tahun 2014. Informasi tersebut terdapat pada halaman 101 s.d. 102.
Jawaban:
Hasil kutipan
Petani apel sering kali menggunakan pestisida secara berlebihan karena kurangnya pengetahuan mengenai manfaat serangga polinator yang membantu penyerbukan. Hal ini menyebabkan serangga polinator turut terkena dampak buruk dari penyemprotan pestisida. Selain itu, ketidaktahuan petani tentang pentingnya tumbuhan penutup tanah sebagai habitat serangga polinator menyebabkan mereka menyiangi tanaman ini untuk pakan ternak. (Purwantiningsih, 2014:101-102)
Penulisan Daftar Pustaka
Purwantiningsih, Budi. 2014. Serangga Polinator. Malang: Universitas Brawijaya Press.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi