

inNalar.com – Tradisi Megalitikum berasal dari kata mega yang berarti besar dan lithos berarti batu. Masa ini berkaitan erat dengan sistem kebudayaan yang menghasilkan bangunan-bangunan monumental yang terbuat dari batu-batu besar.
Tradisi Megalitik sendiri digolongkan ke dalam dua tradisi besar, yaitu Megalitik Tua yang berusia kurang lebih 2500-1500 tahun sebelum masehi dan Megalitik Muda yang berlangsung sekitar millenium pertama sebelum masehi.
Tradisi Megalitik Tua dimasukkan ke dalam masa Neolitik, tradisi ini didukung oleh pemakaian bahasa Austronesia yang menghasilkan alat-alat berupa beliung persegi, dolmen, undak batu, limas berundak dan pelinggih.
Baca Juga: Sutradara Ukraina Jadikan Kamera sebagai ‘Senjata’ Perlawanan terhadap Invasi Rusia
Sedangkan masa Megalitik Tua berkembang pada masa Perundagian dengan hasil kebudayaan seperti kubur batu, sarkofagus dan bejana batu.
Ciri utama dari masa Megalitik adalah adanya suatu kepercayaan yang dianut nenek moyang.
Sehingga tidak mengherankan apabila bangunan-bangunan Megalitik secara umum digunakan sebagai sarana pemujaan dan penghormatan arwah nenek moyang, namun dengan fungsi yang berbeda-beda.
Baca Juga: Kecelakaan Dimas Ahmad Membuat Raffi Ahmad Kesal, Nagita Slavina Justru Sarankan Beli Mobil Baru
Selain itu, masa ini diwarnai dengan kepercayaan adanya hubungan antara yang hidup dengan yang mati.
Terutama kepercayaan akan adanya pengaruh dari yang telah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman.
Tradisi Megalitik akan lebih banyak dijumpai pada masyarakat adat atau suku-suku tertentu yang masih berkiblat dan memegang teguh kebudayaan leluhurnya.
Baca Juga: Jelang MotoGP 2022, Jokowi akan Ngopi Wedang Jahe Bersama Marquez dan Pembalap lain di Istana Negara
Kebudayaan megalithikum menghasilkan alat-alat antara lain:
1. Menhir atau tugu batu yang dibuat dengan tujuan untuk menghormati roh nenek moyang. Lokasi tempat ditemukannya menhir di Indonesia adalah Pasemah (Sumatera Selatan), Sulawesi Tengah dan Kalimantan.
2. Dolmen, yaitu meja batu dimana kakinya berupa tugu batu (menhir). Biasanya meja batu ini digunakan untuk meletakkan sesaji.
Kadang-kadang dibawah dolmen adalah sebuah kuburan, sehingga orang sering menganggapnya sebagai peti kubur. Lokasi penemuan dolmen antara lain Cupari (Kuningan, Jawa Barat), Bondowoso (Jawa Timur), Pasemah (Sumatera), dan Nusa Tenggara Timur.
Baca Juga: 4 Jenis Manusia Praaksara Pithecanthropus, Kenali Lokasi Penemuan, Karakteristik dan Ciri Fisiknya
3. Peti kubur yaitu potongan batu yang disusun menjadi sebuah peti yang digunakan untuk meletakkan jenazah.
4. Sarkofagus yaitu keranda dari batu utuh (monolith)yang dianggap memiliki kekuatan magis.
5. Waruga adalah peti kubur yang berbentuk kubus atau bulat.
6. Punden berundak yaitu sebuah bangunan yang digunakan untuk sesaji yang merupakan bentuk dasar dari bangunan candi.
Tradisi berburu hewan liar di hutan untuk memperoleh makanan masih berlangsung pada megalit ini.
Manusia pendukungnya masih hidup dalam kelompok dan menggunakan cara pemilihan primus interpares dalam memilih pemimpin (kepala suku).
Lazimnya mereka memilih berdasarkan usianya, kejujuran, siapa yang memiliki pengaruh cukup kuat, yang dihormati disegani dan dapat diteladani.
Namun hal yang paling menonjol adalah tradisi pemujaan nenek moyang, baik yang diwujudkan dalam bangunan megalitik ataupun yang terkandung dalam konsepsi keagaman.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi