

inNalar.com – Pihak Israel mengatakan operasinya melawan Hamas di Gaza Selatan akan segera memasuki fase yang tidak intensif.
Hal tersebut dikabarkan setelah kementerian kesehatan kelompok Palestina tersebut melaporkan jumlah korban tewas di wilayah tersebut telah melampaui 24.000 orang.
Sementara itu, perang memasuki hari ke-100 dimana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendapat tekanan internasional yang kuat untuk mengakhiri pertempuran.
Mengingat, kematian warga sipil melonjak dan krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah.
Anehnya, pada saat yang bersamaan terjadi kekerasan mematikan di daerah Tepi Barat.
Terjadi baku tembak di perbatasan Israel dengan Lebanon dan serangan pasukan AS terhadap pemberontak Yaman.
Sebagai informasi, pemberontak Yaman tersebut didukung oleh Iran yang bertindak sebagai solidaritas dengan Hamas.
Dilansir inNalar.com dari gulftoday.ae, Antonio Guterres selaku Sekjen PBB menegaskan seruan untuk menghentikan pertempuran.
Ia pun juga menyerukan untuk memastikan terdapat bantuan yang cukup sampai ke tempat yang dibutuhkan, untuk memfasilitasi pembebasan para sandera, untuk memadamkan api yang lebih luas.
Hingga Senin, 15 Januari 2024 malam, terdapat 24.100 warga Palestina tewas di Jalur Gaza.
70 persen dari korban tewas adalah perempuan, anak-anak, dan remaja akibat pemboman dan serangan darat Israel.
Tak hanya itu, Kantor pers dari kelompok Hamas melaporkan Selasa, 16 Januari 2024 pagi bahwa serangan Israel telah menewaskan 78 orang lagi dalam semalam.
Militer Israel pada Selasa, 16 Januari 2024 pagi juga mengumumkan tewasnya satu tentara lagi di Gaza.
Jadi, secara keseluruhan jumlah total korban meninggal sejak invasi darat dimulai menjadi 189 orang.
Tak hanya di Gaza Selatan, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallan juga mengatakan bahwa operasi intensif di Khan Younis dan Rahan juga akan segera mereda. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi