

inNalar.com – Akhir-akhir ini, pembahasan mengenai wayang santer di media. Berawal dari perspektif dan pendapat Khalid Basalamah mengenai pertunjukan khas Nusantara tersebut.
Buntut dari pendapat Khalid Basalamah yang kontroversial itu adalah viralnya pagelaran wayang di Pondok Pesantren Ora Aji milik Gus Miftah.
Wayangan yang digelar menyusul polemik ceramah Khalid Basalamah itu menjadi sorotan lantaran memperlihatkan salah satu karakter berwajah mirip Khalid Basalamah.
Baca Juga: Perkembangan Tarekat di Indonesia, Ketahui Aliran-aliran yang Paling Terkenal dari ‘Jalan Sufi’ Ini
Terlepas dari itu semua, tahukah Anda bahwa akar pertunjukan wayang sudah ada sejak masa praaksara ?
Wayang sendiri berasal dari kata wayangan yang berarti bayangan. Hal ini sesuai dengan kenyataan pada pagelaran wayang kulit yang menggunakan kelir, secarik kain sebagai pembatas antara dalang dan penonton dibalik kelir.
Dalam perkembangannya, pertunjukan bayang-bayang yang sebelumnya digunakan untuk memuja roh nenek moyang kini berubah menjadi suatu seni pertunjukan dengan cerita yang lebih beragam.
Mengenai asal usul wayang menurut pendapat John Crafud, bahwa orang Jawa pada masa praaksara telah menemukan drama polinesia termasuk pertunjukan bayangan ini.
Baca Juga: Surabaya Diterpa Hujan Es, Ini Penjelasan BMKG Mengenai Penyebab Terjadinya Fenomena Tersebut
Dalam kurun waktu yang cukup lama, evolusi pertunjukan ini berubah menjadi pertunjukan wayang kulit yang masih sangat sederhana.
Baru setelah berkembang agama Hindu dan Budha di Indonesia, Wayang kulit digunakan oleh kedua agama yang lahir di lembah sungai Indus itu sebagai pertunjukan yang bersifat ritual, magis, religius dan pendidikan moral.
Abad ke 11 pada zaman Airlangga, wayang kulit telah menjadi seni pertunjukan yang menampilkan nilai estetis dan hiburan.Beberapa prasasti menyebutkan kata “mawayang” dan “aringgit” itu berarti pertunjukan.
Teks pada masa Airlangga ini menyatakan bahwa pertunjukan wayang memakai paraga boneka yang terbuat dari belulang yang ditata dan diukir serta dibuat bisa bergerak dan berbicara oleh seniman.
Pada masa Hindu, wayang berkembang menjadi lebih kompleks. Dilihat dari bentuk maupun dari bahan pembuatannya.
Hal ini merupakan hasil dari seni rupa naratif yang bergaya klasik, maka kemudian lahir seni rupa naratif yang bergaya tokoh pipih terlihat pada relief – relief bercerita pada candi di Jawa Timur, dan seni tontonan yang meneruskan tradisi “tokoh pipih” namun membawa cerita mitos dan epos Hindu.
Epos Ramayana dan Mahabarata berasal dari India dengan bahasa sansekerta diubah menjadi bahasa Jawa kuno pada abad ke-10. Kitab Ramayana digubah pada zaman Raja Dyah Balitung pada 820-832 atau pada 898-910.
Baca Juga: 8 Santri Tewas Dalam Insiden Kebakaran di Ponpes Miftahul Khoirot Karawang, Berikut Identitasnya
Kitab Mahabarata digubah pada zaman Raja Dharmawangsa Teguh pada 991-1007 M. Lakon yang disajikan dalam pertunjukan wayang bersumber dalam bentuk yang berbeda-beda, seperti :
1. Bersumber dari Syair atau Prosa
2. Bersumber dari Lakon berbentuk pakem balungan lakon atau yang disebut cerita pendek yang berisi hal-hal yang pokok.
3.Bersumber dari Naskah lakon yang ditulis lengkap dari petunjuk teknis pagelaran, dialog, iringan musik dan nyanyian dalang.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi