

inNalar.com – Sejumlah wilayah di Indonesia rawan akan bencana alam, termasuk di Pulau Bali.
Bencana alam seperti banjir, longsor, dan gempa bumi dapat mengancam keselamatan warga dan menimbulkan kerugian materiil seperti kerusakan rumah.
Badan Pusat Statistik Provinsi Bali merilis data jumlah kerusakan rumah berdasarkan bencana alam untuk periode 2023.
Pertama, Kabupaten Jembarana memiliki jumlah kerusakan rumah akibat terendam banjir paling banyak, yaitu berjumlah 1.682 rumah.
Baca Juga: TOP 3 Transportasi Umum Tersibuk di Jakarta, No 3 Favoritnya Warga Ibukota!
Selain itu, banjir juga menyebabkan rumah rusak ringan dengan jumlah kerusakan sebanyak 6 kali.
Jembrana dialiri oleh Sungai Bilukpoh dan menjadi salah satu daerah aliran sungai yang berisiko banjir bandang.
Potensi bencana alam tersebut bahkan sudah terjadi berulang kali dan terakhir terjadi pada bulan Oktober 2022 silam.
Baca Juga: Desa Tertinggi di Indonesia Ada di Jawa Tengah, Berada di Pucuk Gunung Lawu Ketinggian 3.150 Mdpl
Air bah tersebut menghanyutkan permukiman warga yang berdiri di sepanjang daerah aliran sungai.
Tahun ini, banjir bandang diprediksi akan terulang kembali akibat longsor yang menutupi sebagian sungai.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) setempat telah memetakan wilayah yang berpotensi banjir saat musim hujan.
Baca Juga: Saingi Ibu Kota Negara, Surabaya Raih Predikat Daerah Paling ‘Fancy’ di Jawa Timur
Kedua, Kabupaten Buleleng rawan gempa bumi karena telah menyebabkan kerusakan rumah sedang sebanyak 13 kali.
Daerah ini mempunyai kondisi geografis yang berpotensi akan terjadinya gempa serta tsunami.
Pasalnya, kabupaten yang berbatasan dengan Jembrana ini diapit oleh 3 sumber gempa sekaligus yang terletak di Seririt, Desa Pengastulan, Desa Banyuwedang, dan Tejakula.
Terlebih, lokasi Buleleng yang berada di atas lempeng tektonik memperparah kerusakan wilayah tersebut.
Tercatat Buleleng pernah mengalami gempa dan tsunami pada tahun 1815 yang diduga menewaskan 11 ribu orang. Bahkan, guncangannya terasa hingga Bima dan Surabaya.
Pada tahun 1976, gempa berkekuatan 6,7 SR terjadi dan memakan korban jiwa sebanyak 576 orang, ribuan luka-luka, dan ratusan ribu kehilangan tempat tinggal.
Di samping itu, kerusakan rumah di Kabupaten Badung disebabkan oleh longsor, dengan total kerusakan sebanyak 7 kali.
Longsor dapat terjadi ketika musim hujan melanda. Daerah ini juga rawan banjir dan pohon tumbang.
Baca Juga: 5 Kota di Jawa Timur dengan Hotel Paling Sepi Pengunjung, Penyebabnya Gara-gara Angker?
BPDB Badung menyebut ada 3 kecamatan yang memiliki risiko dilanda bencana tersebut, yaitu Abiansemal, Kuta, dan Petang.
Tebing laut di wilayah ini juga tidak luput dari potensi bencana.
Pemerintah kabupaten menemukan rongga di dasar tebing Pura Uluwatu yang terbentuk akibat gempuran ombak laut pada Agustus 2024 lalu.
Rongga yang ditemukan cukup dalam dan bisa semakin membesar jika tidak segera diatasi.
Oleh karena itu, Pemkab sedang mengerjakan proyek pembangunan seawall dan penahan ombak dari beton. Waktu pengerjaannya membutuhkan 160 hari kalender dan menghabiskan anggaran sebesar Rp78.642.040.886.***