Valuasi Sempat Anjlok Hingga Rp3.000 Triliun, Shopee Mampu Tetap Bertahan Meski Harus Lakukan Ini

InNalar.Com – Pada tahun 2022, Shopee mengalami penurunan valuasi yang begitu signifikan.
 
Hal tersebut menyebabkan pihak Shopee melakukan PHK massal terhadap karyawan.
 
Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut :

1. Anjloknya Valuasi induk usaha Shopee anjlok dari sekitar $200 miliar pada Oktober 2021 menjadi $27 miliar pada September 2022.

Baca Juga: Fantastis! Capai Valuasi Hingga Rp450 Triliun, GoTo (Gojek Tokopedia) Jadi Unicorn Terbesar di Asia Tenggara

Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, kenaikan suku bunga, resesi, dan kerugian.

Selain itu, Shopee juga menghadapi persaingan ketat dari platform e-commerce lainnya seperti Tokopedia dan Bukalapak

2. PHK massal dampak dari anjloknya valuasi Shopee adalah PHK massal terhadap karyawan.

Baca Juga: Berikut 3 SMA Terbaik di Kalimantan Selatan yang Mempunyai Peringkat Tertinggi Nasional, Ada Sekolahmu?

Pada September 2022, SEA Ltd, induk usaha Shopee, dikabarkan akan melakukan PHK terhadap staf di bisnis live streaming game dan bagian pengembangannya

3. PHK ini juga terjadi di berbagai negara dan mempengaruhi harta bos Shopee yang raib sebesar Rp250 triliun.

4. Dampak PHK karyawan perusahaan Shopee terhadap perkembangan perusahaan juga menjadi perhatian.

Baca Juga: Mall Tertua di Kalimantan Selatan Ini Kondisinya Memprihatinkan, Sempat Ada Tragedi yang Tewaskan 123 Orang

5. Pandemi COVID-19 dan Digitalisasi UMKM Pandemi COVID-19 juga mempengaruhi kondisi bisnis Shopee dan platform e-commerce lainnya. 
 
Menurut sebuah buku yang berjudul “Pandemi COVID-19 dan Digitalisasi UMKM”.
 
Pandemi COVID-19 mempercepat digitalisasi UMKM dan meningkatkan persaingan di antara platform e-commerce.

Hal ini juga mempengaruhi kondisi bisnis Shopee dan dapat menjadi faktor yang melemahkan kondisi penilaian dan PHK massal.

Kesimpulannya, penilaian besar-besaran Shopee dan PHK terhadap karyawan merupakan dampak dari berbagai faktor.

 
Faktor tersebut termasuk pandemi COVID-19, kenaikan suku bunga, resesi, dan persaingan ketat di antara platform e-commerce. 
 
 
Hal ini juga menunjukkan pentingnya adaptasi dan inovasi dalam menghadapi kondisi bisnis yang berubah-ubah.***
 

 

 

Rekomendasi