Usianya Lebih dari Satu Abad! Riau Gelar Festival Pawai Pacu Jalur Tradisional Karisma Event Nusantara (KEN)

inNalar – Provinsi Riau Gelar Festival Pawai Pacu Jalur yang berlangsung pada 23 sampai 27 Agustus. Untuk itu, jangan sampai ketinggalan.

Festival Pacu Jalur digelar di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Kuansiang, Provinsi Riau.

Festival ini diresmikan langsung oleh Sekdaprov Riau di Lapang Limuno Kota Taluk Kuantan, Kuantan Singingi.

Baca Juga: Luasnya 40 Ha, Bandara di Pulau Terluar Kalimantan Timur Ini Jaraknya 350 Km dari Samarinda: Terkecil di RI?

Festival ini dihadiri oleh seluruh Kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Kemenparekraf ajang olahraga dan oleh jiwa ini sebagai satu dari seratus event terbaik nasional.

Setiap Kecamatan berlomba untuk menghias perahu mereka dengan keunikannya masing masing.

Baca Juga: Sukses di Pasar Ekspor, Ini 5 Daerah Penghasil Kopi Terbanyak di Lampung, No 1 Bukan Tanggamus, Melainkan…

Oleh karenanya, festival ini kurang lebih diikuti oleh 193 peserta dengan tema “Sarontak Bakunyuah Nagori Bermarwah”

Tema tersebut memilik arti mendayung bersama untuk mencapai cita-cita yaitu kesejahteraan masyarakat.

Pacu Jalur merupakan budaya yang masih dilestarikan oleh Provinsi Riau dan telah diperkenalkan dan mulai eksis pada abad ke-17.

Baca Juga: Surga Tersembunyi yang Terletak di Kalimantan Timur, Danau di Pulau Kakaban Ini Dihuni oleh Makhluk Tak Biasa

Pacu Jalur sendiri berasal dari 2 bahasa. Yaitu Pacu yang berarti perahu dan Jalur yang berasal dari kata “Terjulur” yang artinya “Menjulur”

Sebelumnya, Pacu Jalur dijadikan sebagai transportasi pengangkut hasil pertanian dan perdagangan.

Pada zaman Belanda, Pacu Jalur ini diselenggarakan untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Wilhelmina.

Dengan demikian Pacu Jalur khirnya dianggap sebagai suatu festival.

Festival ini diikuti oleh 40-60 anak pacu dengan Tukang Tari, Timbo Ruang dan Tukang Onjai.

Tukang Tari ialah yang memimpin setiap anak pacu. Timbo ruang adalah orang yang memberi aba-aba untuk kecepatan mendayung dan Tukang Onjai memberi daya dorong luncuran jalur.

Perahu ini menggunakan kayu pohon utuh tanpa sambungan dengan proses pembuatan selama setahun.

Pacu jalur dihadiri oleh ribuan pengunjung yang dapat membantu pembangunan sisi ekonomi.***

 

 

 

Rekomendasi