Usianya 107 Tahun, Bentuk Masjid Tertua di Tanah Datar Sumatera Barat Ini Hasil Perpaduan 3 Budaya, Apa Saja?

inNalar.com – Sebuah masjid beratap susun dengan warna hijau tosca di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat ini nampak masih berdiri megah dan kokoh meski usianya sudah memasuki 107 tahun.

Tempat ibadah umat Islam tertua di Tanah Datar, Sumatera Barat ini namanya adalah Masjid Raya Rao Rao, letaknya di Kecamatan Sungai tarab.

Masjid yang juga merupakan cagar budaya di daerah Tanah Datar, Sumatera Barat ini diketahui telah dibangun sejak zaman Pemerintahan Hindia – Belanda.

Baca Juga: Gemar Blusukan Pakai Motor, Ternyata Ini 5 Motor Bupati Kukar Edi Damansyah yang Nilainya Fantastis

Oleh karena itu, tidak heran jika gaya arsitektur rumah ibadah yang satu ini terlihat bercampur dari corak khas 3 budaya.

Lantas, pengaruh dari bangsa mana saja yang membuat desain masjid purba di Tanah Datar disebut paling unik?

Jawabannya tidak terlepas dari perjalanan di masa Masjid Raya Rao Rao ini dibangun, tepatnya mulai pada tahun 1908.

Baca Juga: Alokasi Dana Sekolah Rp17 Miliar di Salah Satu Kabupaten Sumatera Utara Tidak Disalurkan, Ternyata Uangnya…

Dilansir dari laman Kebudayaan Kemendikbud, prakarsa pembangunan Masjid di pelosok Sumatera Barat ini telah dimulai sejak 1892, hingga akhirnya pada 1916 rampung dan bisa digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam.

Gaya arsitektur pertama terlihat adanya corak khas Melayu pada rumah ibadah ini. Penyebanya tentu tidak terlepas dari latar belakang penduduknya yang merupakan asli dari Suku Minangkabau.

Ornamen atap bersusun empat di pucuk masjid menjadi penanda keberadaan budaya Melayu yang melekat pada masyarakat di sekitar Tanah Datar, Sumatera Barat.

Baca Juga: Misteri Goa Tengkorak di Kalimantan Timur: Tempat Pembuangan Kepala dan Tulang Manusia yang Jadi Wisata Mistis

Gaya arsitektur yang kedua adanya corak khas Timur Tengah, khususnya Persia. Serapan budaya ini melambangkan pengaruh Islam yang sangat kuar di daerah masyarakatnya.

Terlihat adanya 13 unit jendela yang disebut menjadi simbol 13 rukun sholat.

Kemudian, ada pula enam unit pintu yang terlihat di depan masjid, menjadi bagian dari perlambangan proses penciptaan alam yang melalui 6 tahap.

Gaya arsitektur yang ketiga, adanya corak khas Eropa yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah penjajahan oleh kolonial Belanda kala itu.

Siapa sangka, majid tertua di Tanah Datar, Sumatera Barat ini memiliki komponen marmer yang didatangkan langsung dari Italia.

Sentuhan Eropa inilah yang membuat corak Masjid Raya rao Rao berpadu dari tiga bangsa, yakni Persia Timur Tengah, Minangkabau Melayu, dan Eropa, tepatnya Italia dan Belanda.

Masjid yang termasuk ke dalam daftar peninggalan rumah ibadah tertua di Sumatera Barat ini rupanya telah mengalami tiga kali pemugaran.

Renovasi yang dilakukan selama ini tidak pernah benar-benar mengubah desain aslinya, hanya ada penambahan menara di samping masjid tersebut.

Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1926 dikarenakan terjadi gempa dahsyat yang menghancurkan bangunan tersebut.

Kemudian, renovasi di tahun 1990-an mulai adanya penggantian keramik lama menuju keramik yang baru, hingga pada 2009 terjadi gempa yang mengharuskan bangunannya diperbaiki kembali.***

Rekomendasi