Usai Diresmikan Jokowi, Bandara Senilai Rp2 Triliun di Banjarmasin Ini Malah Dinobatkan Jadi yang Terburuk, Survei Diragukan?

InNalar.com – Pada awal Desember ini, 3 bandara di Indonesia mendapatkan gelar bandar udara terburuk di dunia versi Airhelp Inc.

Salah satunya adalah bandara internasional Syamsudin Noor, yang berada di Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Padahal bandar udara tersebut dikelola oleh perusahaan yang terkenal, yaitu PT Angkasa Pura I (AP I).

Baca Juga: Megaproyek Rp56 Triliun Ditinggal Konglomerat, Pembangunan Jalan Tol Terpanjang Kini Akan Dilelang Ulang, Kok Bisa?

Ditambah lagi, infrastruktur tersebut belum lama ini juga baru saja selesai dikembangkan pada tahun 2019.

Bahkan presiden Jokowi yang meresmikannya pada Desember 2019 juga menyebutkan jika infrastruktur pesawat itu kini telah bertambah besar sampai 8 kali lipat.

Sekedar informasi, selama pengembangan yang dilakukan tersebut, bahkan proyek ini juga masuk ke dalam PSN yang sampai habiskan anggaran Rp2 triliun.

Baca Juga: Dimulai Sejak 2007, Proyek Pembangunan Bendungan di Kalimantan Timur Ini Terkendala Masalah Lahan dan Belum Selesai, Rampung Kapan?

Maka tak heran jika kini bandar udara Syamsudin Noor ini menjadi yang terbesar ke-2 di Kalimantan Selatan.

Pasalnya, setelah proyek pengembangan dilakukan, kini gedung terminal penumpang di lokasi tersebut luasnya mencapai 77.569 m2 dengan kapasitas 7 juta penumpang per tahun.

Akan tetapi, setelah melakukan pengembangan hingga habiskan Rp2 triliun, siapa sangka infrastruktur pesawat di Banjarmasin ini dinobatkan jadi salah satu dari sepuluh bandar udara terburuk di dunia.

Baca Juga: Omzet Capai Rp14 Miliar, Baru Dibuka 4 Bulan Solo Safari di Surakarta Sampai Dikunjungi Ribuan Orang, Tapi Pajaknya…

Adapun gelar tersebut disebutkan setelah Airhelp Inc melakukan survei di seluruh bandar udara di dunia.

Mengetahui hal tersebut, Angkasa Pura I selaku yang mengelola Syamsudin Noor itu pun meragukan akan hasil survei tersebut.

Sebab, survei yang dilakukan Airhelp Inc ini juga tidak menyebutkan parameter sehingga tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Baca Juga: Proyek Ambisius Rp31 T Ditinggalkan Amerika, Hilirisasi Batu Bara Pengganti LPG di Sumsel Kini Gunakan Teknologi China, Jadi Lebih Murah?

Hal tersebut dikarenakan selama ini tidak ada penerbangan reguler internasional dari atau ke Banjarmasin – BDJ, akan tetapi bandar udara Syamsudin Noor ini malah memiliki nilai yang paling rendah.

Maka dari itulah survei yang dilakukan Airhelp Inc ini dinilai meragukan oleh Angkasa Pura I, mengingat bandara Internasional Syamsudin Noor ini juga baru saja dikembangkan dan diresmikan oleh presiden Jokowi pada tahun 2019 kemarin.

Di sisi lain, bandar udara di Kalimantan Selatan yang dinobatkan jadi yang terburuk ini malah menerima penghargaan sebagai yang terbaik tingkat nasional dan internasional.

Baca Juga: Anggarannya Mencapai Rp3,7 Triliun, Bendungan Pertama di Sumatera Selatan Ini Diramalkan Tidak akan Tahan Lama, Kok Bisa?

Sekedar informasi, AP I biasanya menggunakan rujukan dari ACI (Airport Council Internasional and Skytrex ) di tingkat internasional karena telah memiliki ratusan member di kelas dunia.

Sedangkan di tingkat nasional, AP I akan menggunakan rujukan dari Indonesia National Air Carriers Association (INACA).

Adapun yang membuat AP I selaku pengelola Syamsudin Noor ini ragu juga dikarenakan bandar udara yang dimaksud justru memperoleh penghargaan dari 2 lembaga survei di atas.

Baca Juga: Asetnya Rp32,05 Triliun, Perusahaan Properti Surabaya Ini Salip Investor Asing Genggam Proyek Mall Megah di IKN Kalimantan Timur, Nilai Investasinya..

Karena pada tahun 2022 berdasarkan ACI Syamsudin Noor ini justru memperoleh penghargaan di kategori The Voice of the Customer in Asia Pacific, diantara satu dari 73 bandar udara di dunia.

Sementara berdasarkan INACA pada tahun 2023, Syamsudin Noor ini memperoleh penghargaan berupa bandara Terbaik dari Indeks Kepuasan Pelanggan (CSI). ***

 

Rekomendasi