

inNalar.com – Indonesia merupakan negara yang kaya akan keaneka ragaman suku dan budaya. Namun ada yang unik dengan satu desa di Ngawi, Jawa Timur.
Pasalnya, salah satu desa di Ngawi ini tidak hanya hidup dengan manusia, melainkan juga hidup bersama Kerbau.
Selain itu, desa di Ngawi yang hidup bersama kerbau ini juga terletak di tengah-tengah hutan Jati Perhutani.
Terletak di Desa Banyubiru, kec. Widodaren, kab. Ngawi, Jawa Timur, tiap satu rumah disini mampu memiliki hingga puluhan ekor Kerbau.
Bagi orang-orang yang berkunjung kesini, pasti nantinya akan melihat Kerbau yang berkeliaran kesana kemari.
Dari alasan seperti itulah desa di Ngawi ini juga memiliki nama lain sebagai Desa Kerbau.
Meskipun memiliki banyak Kerbau, namun warga desa Banyubiru Ngawi ini profesi utamanya adalah bertani mengurus tanah.
Berdasarkan berbagai sumber terpercaya, jumlah Kerbau yang ada di desa Banyubiru ini memiliki total tidak kurang dari 900.
Dan uniknya, meskipun Kerbau-kerbau itu dilepas dari kandangnya, namun di sore hari nanti mereka akan pulang sendiri tanpa ada yang perlu mengkomando.
Jangankan untuk pulang, bahkan saat di sore hari, Kerbau-kerbau yang ada di desa Banyubiru ini akan menuju ke sungai sendirian untuk mandi. sekilas seperti kampung pada umumnya. Masyarakatnya mayoritas menjadi petani. Hilir mudik mencari penghidupan dari hasil olah tanah khas warga pedesaan.
Sedikitnya ada 900-an ekor kerbau. Hewan ternak mirip sapi ini, oleh warga setempat dijuluki Rojo Koyo. Istilah Jawa yang merujuk pada kebudayaan. Rojo yang berarti raja, dan Koyo yang berarti kekayaan.
Menurut para warga Banyubiru di Ngawi, mereka percaya dengan kategori yang ada dalam Rojo Koyo.
Arti dari rojo sendiri adalah raja. Sedangkan koyo adalah kaya.
Sedangkan dalam kategori rojo koyo, selain dari pertanian dan hewan seperti Sapi ataupun Kambing, Kerbau juga merupakan salah satu dari hewan yang masuk dalam kategori itu.
Selain masuk dalam kategori Rojo koyo, Kerbau juga mampu memberikan penghasilan tambahan selain penghasilan dari pertanian.
Meskipun terletak di tengah hutan Jati Perhutani, namun untuk mengunjungi ke desa kerbau di Ngawi ini cukup mudah.
Karena masih bisa diakses menggunakan motor, ataupun mobil.
Pada desa Kerbau Ngawi ini, ada pula tradisi slametan.
Namun acara slametan ini bukan karena adanya manusia yang lahir, melainkan jika adanya bayi Kerbau yang lahir.
Tidak hanya itu, bagi para pengunjung yang datang di waktu yang bertepatan dengan festival di desa ini mungkin akan takjub.
Karena di desa Banyubiru Ngawi itu terdapat festival tahunan, yang dinamai Gumbrekan Mahesa.
Dirayakan tiap setahun sekali, acara festival ini merupakan peringatan dari hari lahirnya gudel si anak kerbau.
Menariknya, pada acara perayaan tersebut, nantinya kerbau-kerbau yang jumlahnya ratusan itu akan dilepas, hingga memenuhi lahan sekitar hingga penuh.***