

inNalar.com – Pernahkah kalian membayangkan jalan tol terbuat dari bambu? Pasti, sebagian besar terkejut membaca pertanyaan ini.
Padahal, terdapat kurang lebih 10 juta batang bambu yang bisa dijadikan sebagai struktur dasar konstruksi untuk tol ruas Semarang-Demak sepanjang 6 Km. Tol yang dibagi menjadi 2 bagian konstruksinya.
Bagian pertama, Semarang-Sayung sepanjang 10,64 Km yang dikerjakan oleh Pemerintah dengan dana 10 triliun rupiah.
Bagian kedua, Sayung-Demak sejauh 16,31 Km. Ini adalah milik badan usaha jalan tol PT. Pembangunan Perumahan Semarang Demak dengan biaya konstruksi sebesar Rp4,7 triliun.
Selain berada diatas laut tol Semarang Demak ini juga dilengkapi rest area, kolam retensi dan rumah pompa.
Sehingga jalan tol ini dapat berfungsi sebagai tanggul Laut yang bisa melindungi Semarang dari banjir pasang laut.
Baca Juga: Singapura Tutup Akses Patung Merlion, Kawasan Elit di Surabaya Jawa Timur Juga Punya View Serupa, Lokasinya?
Bambu digunakan sebagai struktur tanggul dan konstruksi jalan tol.
Dimana batang bambu diolah dan bentuk menyerupai matras atau ditancapkan ke dalam tanah. Setiap bambu memiliki jarak 1 meter dengan lebar 150 meter.
Saat selesai dirakit kemudian dihamparkan dan ditaburi pasir laut diatasnya setebal 20 Cm menggunakan bantuan Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD) atau menyerupai kapal isap pasir laut.
Baca Juga: Miris! 7 Daerah Dengan Penduduk Paling Miskin di Indonesia: Lampung, NTT dan Sumatera Utara Mendominasi?
Lalu dihamparkan lagi dan ditutup dengan lapisan keras pasir laut berulang kali sampai 17 lapis.
Andi Kurnia sebagai pimpinan PT LAPI ITB menyatakan tidak perlu lagi memakai tiang pancang dalam konstruksi ini.
Supaya lebih kuat dan tidak bergerak konstruksi ini ditambahkan tiang pancang penahan saat melewati alur sungai Sayung. Fungsinya, untuk menahan konstruksi bambu supaya tidak ambruk.
Biasanya ini dilakukan sebelum jalan tol jadi terutama dibagian Semarang-Sayung sebagai tanggul Laut.
Menariknya, konstruksi ini menjadi yang pertama di Indonesia dengan menggabungkan jalan tol dan tanggul laut.
Sebelum dipakai untuk proyek jalan tol bambu ini telah dilakukan uji kelayakan terlebih dahulu sebagai bahan konstruksi oleh Kementerian PUPR.
Menurut Ferri Eka Putra selaku Kepala Balai Bahan dan Struktur Bangunan Gedung, ada 2 jenis pengujian untuk matras bambu yaitu uji tarik dan uji lentur.
Ini bertujuan untuk mengetahui perilaku bambu saat dijadikan matras termasuk saat mengenai tarikan ke samping atau tekanan dari atas.
Dengan demikian semua konstruksi seperti bambu yang nantinya ada di jalan tol Semarang Demak akan digunakan oleh masyarakat sudah terjamin keamanannya.***