

inNalar.com – Baru-baru ini, Sosok Ridwan Kamil ungkap terkait calon pemimpin yang baik untuk Indonesia.
Tepatnya di dalam podcast Youth TV Indonesia dengan judul ‘Bercanda Bareng Cak Lontong, Ridwan Kamil Sang Arsitek Indonesia’.
Awalnya, Ridwan Kamil atau yang biasa disebut Kang Emil menceritakan banyak hal tentang pengalamannya sebagai gubernur dan segudang karyanya sebagai arsitek bangunan penting dan bersejarah.
Baca Juga: Buntut Isu Politik Dinasti, Putusan MKMK Jadi Kunci Kembalikan Wibawa Mahkamah Konstitusi
Pembicaraan dalam podcast yang berdurasi hampir 50 menit itu berisi tentang hal-hal penting, dengan disertai candaan sesekali dari cak lontong dan dua host lainnya.
Hingga mendekati menit akhir, salah satu host menanyakan kepada Ridwan Kamil terkait pemimpin muda dan pemilihannya saat ini.
Eks Gubernur Jawa Barat itu menerangkan, ada satu hal yang mengkhawatirkan saat pemilihan, yaitu adalah kurangnya pengetahuan si pemilih.
“Dari 100 juta kalangan anak muda yang memilih dalam pemilu, hanya 10 persen nya yang peduli hukum,” ucap Ridwan Kamil dalam perbincangannya.
Artinya, 90 persen lainnya memilih tanpa riset dan pengetahuan yang jelas tentang siapa yang dipilih.
“Nah itu yang bahayanya, jadi nanti jangan salahkan kalau dipimpin oleh pemimpin yang salah,” tutur Kang Emil dengan jelas.
Adapun terkait kontribusi anak muda sebagai pemimpin saat ini, Ridwan Kamil menganggap sudah menjadi hal yang lumrah bila anak muda banyak menjadi pemimpin.
Namun ia tekankan, pemimpin muda itu boleh tapi tetap harus berkapasitas dan mumpuni, bukan karena suatu hal.
“Memilih pemimpin muda itu boleh, Soekarno juga dulu memimpin ketika masih muda. Tapi harus yang memiliki kapasitas, bukan karena bapaknya misalkan, jadi karena memang mumpuni untuk memimpin,” ucap Ridwan Kamil saat menjelaskan.
Saat itu Denny Siregar selaku host juga mengatakan, banyak sekarang yang duduk di kursi pemerintahan, masih turun temurun kepada keluarganya atau dalam arti memiliki ‘privilege’.
Hal ini langsung di jawab oleh Ridwan Kamil, menurutnya hal tersebut bisa terjadi karena kekuasaan itu juga memiliki kenikmatan, sehingga sangat susah untuk menjadi seorang yang legowo.
Di akhir pembicaraan, Ridwan Kamil juga sampaikan bahwa kurangnya demokrasi negeri ini adalah pemilihan pemimpin berdasarkan pada siapa yang disukai, bukan siapa yang memiliki kapasitas serta mumpuni.
“Banyak sekarang yang hanya mengandalkan pencitraan, bukan dengan prestasi dan kepintaran,” tutur Ridwan Kamil.
Untuk itu, ia menghimbau agar pemilih nantinya memilih pemimpin berdasarkan pada track record, dan yang bisa mengambil keputusan.
“Harus ada track recordnya, memilih pemimpin negeri ini itu tidak boleh sembarangan, dan harus memilih yang bisa mengambil keputusan, karena definisi pemimpin itu bisa mengambil keputusan,” ungkap Ridwan Kamil.
Hingga podcast tersebut kemudian ditutup dengan menghimbau para pemimpin yang sekarang sedang menduduki kursi jabatan, agar memberikan contoh yang baik bagi para pemuda Indonesia.***