

inNalar.com – Ustadz Abdul Somad (UAS) menjelaskan selama ini masih banyak dari orang-orang yang belum paham tentang makna rezeki.
Lebih jelasnya kata UAS, gampangnya makna terendah rezeki itu berupa makanan yang kita peroleh untuk bertahan hidup sehari-hari.
UAS mencontohkan pada seorang anak bayi, ia diberikan makanan berupa air susu oleh ibunya. Sehingga itulah yang dinamakan rezeki yang paling rendah.
Baca Juga: Al Quran Surah Al Qiyamah Ayat 30 Sampai 40 Lengkap dengan Terjemahan Bahasa Indonesia
“Anak-anak itu ada rezekinya, yaitu air susu ibunya. Sedangkan pakaian tidak disebut dengan rezeki. Jadi kalau cerita (makna) rezeki yang paling sempit, ya makan itulah rezeki,” tutur Ustadz Abdul Somad dalam videonya di kanal Youtube Ustadz Abdul Somad Official yang diunggah pada 21 Agustus 2021.
Adapun makna lebih luas dari rezeki adalah diberikannya seseorang berbagai macam pemahaman tentang ilmu, terutama di bidang agama.
Kendati demikian, rezeki bukan hanya berarti tentang sesuatu yang bisa dimakan saja, melainkan segala kenikmatan yang Allh berikan juga termasuk di dalamnya.
“Lebih luasnya, pemahaman yang benar tentang pun agama juga disebut rezeki, ” ungkapnya.
Berbeda lagi, lanjut UAS, ia juga mengutip perkataan ulama besar ahli tafsir dari Al-azhar yaitu Syekh Muhammad Mutawalli Asy-sya’rawi yang mengatakan rezeki tertinggi adalah kebaikan.
Baca Juga: Inilah Orang Pertama di Dunia yang Mengimani Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW
Seluruh kebaikan mulai dari ucapan, perbuatan, pikiran, dan lainnya yang dikoordinir untuk senantiasa tetap dalam menjalankan kebajikan.
“Rezeki yang paling tinggi adalah al-afiah kebaikan, baik mata, baik telinga, baik hati, baik pikiran, baik kawan, baik harta, baik rumah, keluarga, batik kerja,” lanjut UAS.
Tak hanya itu, adapun yang disebut dengan makna rezeki paling utama dalam kehidupan ialah diberikannya keturunan yang sholih dan sholihah.
Dan terakhir, makna paling sempurna dari rezeki menurut dai berdarah Melayu tersebut adalah ridho Allah SWT yang diberikan kepada hambaNya.
“Tamamur rizki ridho Allah. Kesempurnaan rezeki adalah ketika kita mencapai ridho Allah SWT,” jelas ustadz berdarah Melayu itu.
Baca Juga: Serangan Umum 1 Maret, Kala Ibukota Yogyakarta Diduduki Belanda
Dengan demikian, UAS menekankan agar tidak selalu terpaku dan memaknai rezeki hanya sekedar tentang materi saja.
Harapannya, supaya dapat menambah rasa syukur kita atas semua kenikmatan yang diberikan Allah SWt.***