

inNalar.com – Perjuangan kaum perempuan dalam sejarah tidak pernah berhenti. Perempuan selalu melakukan pergerakan-pergerakan yang sangat signifikan terhadap pemberdayaan diri dan bagi kaumnya.
Untuk memperingati Perayaan Hari Perempuan Internasional 2022, inNalar.com mengangkat tokoh perempuan hebat yang berjuang menjadi pahlawan pendidikan dan kesetaraan gender bagi perempuan di Indonesia, ialah Roehana Koddoes, wartawati pertama di Indonesia.
Roehana Koddoes merupakan seorang perempuan Minangkabau yang lahir pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, dekat Nagarai Sianok, Bukittinggi, Sumatera Barat. Kakak tiri beliau adalah Sutan Sjahrir yang kita kenal sebagai Perdana Menteri Indonesia pertama.
Perjuangan Roehana dalam memajukan kaum perempuan di Sumatera Barat bukanlah hal yang mudah. Berbagai penentangan didapat dari pemuka adat dan masyarakat lelaki Minangkabau. Mereka beranggapan, untuk apa perempuan harus menyerupai laki-laki.
Roehana Koeddoes kecil pun sampai akhir hayatnya tidak pernah mendapatkan sekolah formal seperti laki-laki pada masa itu.
Ia adalah tipikal pemberontak dan sudah berfikir melampaui zamannya, dengan gigih Roehana meminta diajarkan membaca kepada isteri seorang jaksa. Akhirnya Roehana bisa membaca dan sejak itu ia menjadi kutu buku.
Menginjak usia delapan tahun, Roehana Koddoes pindah mengikuti ayahnya ke Talu sebuah wilayah di Kapubaten Pasaman Barat. Di sini minat bacanya mendapat perhatian dari orang tuanya, sehingga Roehana diberi langganan sebuah surat kabar terbitan Medan bernama “Berita Kecil”.
Melihat lingkungan anak-anak seusianya tidak bisa membaca, Roehana mengumpulkan mereka di serambi rumahnya dan mengajarkan membaca. Jadilah di usia delapan tahun ia sudah menjadi seorang guru kecil.
Pada usia 17 tahun Roehana pindah kembali ke tanah kelahirannya Koto Gadang, tinggal bersama neneknya. Ketika itu tidak banyak yang berubah pada perempuan di Koto Gadang.
Mereka masih saja dalam kegelapan dan termarjinalkan, sehingga rawan mengalami kekerasan, baik seksual, ekonomi, fisik maupun psikis.
Baca Juga: Ironi Perempuan Masa Kolonial sampai Pendudukan, Dijadikan Nyai hingga Stigma Ransum Jepang
Untuk melawan kondisi yang demikian itu, Roehana bergerak melawannya dengan mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) dan menerbitkan surat kabar perempuan Soenting Melayoe.
Suatu gebrakan yang luar biasa bagi perempuan Minangkabau di zaman itu.
Roehana juga berjuang di media massa sebagai pimpinan redaksi serta penulis di surat kabar Sunting Melayu yang didirikan oleh Sutan Maharadja di kota Padang tahun 1912.
Surat kabar ini membuka kesempatan luas bagi kaum perempuan untuk memperjuangkan nasib perempuan di Hindia Belanda. Berikut salah satu tulisan Roehana Koeddoes yang menyerukan pergerakan perempuan lewat Soenting Melajoe:
Baca Juga: Sinb VIVIZ Beberkan Situasi dan Perasaan Anggota GFRIEND saat Pemutusan Kontrak
“Apabila diperhatikan bagaimana gerakan bangsa waktoe ini, dan diperbandingkan dengan gerakan Hindia dan fikirkan bagaimana gerakan Soematera waktoe ini, maka tahoelah kita bahwa masih djaoeh djalan jang kita tempoeh djalan ke Padang jang bernama kemadjoean.
Akan tetapi hal ini djanganlah disia-siakan, teroetama bagi orang jang berperasaan tjinta, kasih dan sajang kepada bangsa dan tanah airnja. Hingga waktoe sekarang bagaimana pergerakan Boemi Poetera hendak meniroe gerakan bangsa Eropa jang telah madjoe.
Sepakan mendirikan perkoempoelan dan lain-lain mengenai peladjaran. Di alam Minangkabau kita ini soedah poela memboenga dengan mendirikan perserikatan.
Biarpoen banjaknya perserikatan teroetama boeat laki-laki, akan tetapi marilah bangsa perempoean berani minta terima kasih kepada ahli-ahli soepaja kita dihelanja dari lembah kegelapan ke djalan jang terang.
Beberapa tempat telah bertambah djuga moerid-moerid perempoean dan peladjar dengan rajinnja. Kita harapkan moedah-moedahan sekalian bangsakoe Melajoe jang ingin akan kemadjoean dan keselamatan negeri dan bangsa serta tanah airnja, akan memperhatikan hal ini.
Dalam tulisan di atas dapat diakui bahwa perempuan telah berani dalam menuntut kesetaraan gender pada masa itu, yaitu dengan meneriakkan gagasan-gagasan emansipasi lewat artikel di surat kabar.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi