Tren Diet dalam Balutan Racun Estetik TikTok, Begini Fakta yang Jarang Diketahui

inNalar.com – Di balik video dengan pencahayaan hangat, musik lo-fi yang menenangkan, dan editan warna pastel khas Pinterest, tagar #Skinnytok di TikTok menghadirkan wajah baru dari kebohongan lama: tubuh kurus adalah standar sehat dan lapar adalah bentuk dedikasi.

Selamat datang di #SkinnyTok, tempat di mana kebugaran disulap menjadi ritual pseudo-spiritual dan gangguan makan dikemas sebagai gaya hidup minimalis.

Konten-konten dalam tagar ini sering tampil seperti motivasi sehat, padaha, jika diperhatikan lebih cermat, itu tidak lebih dari versi 4.0 dari thinspiration alias thinspo.

Baca Juga: Ojol Tuntut Potongan Tarif 10 Persen saat Demo, Begini Kata Petinggi Grab Indonesia

Dulu, konten seperti ini hanya berseliweran di sudut-sudut forum gelap: forum Pro-Ana, blog Tumblr yang dikunci, atau situs obscure yang berisi kalimat seperti “hunger is your friend.”

Tapi bagaimana dengan sekarang? Dan yap! cukup scroll 5 menit di FYP TikTok dan Anda akan menemukan remaja 14 tahun menyampaikan “life hack” diet mereka; “Sarapan hanya bikin aku lambat bergerak, jadi aku puasa aja biar produktif.” katanya.

Seperti biasa, TikTok, mengklaim telah memperketat kebijakan terhadap konten gangguan makan. Bahkan, ketika Anda mengetik kata “kurus” di kolom pencarian, akan muncul pesan mengharukan: “Kamu tidak sendiri. Bantuan tersedia.”

Baca Juga: RUU Perampasan Aset: Ketika Komitmen Antikorupsi Terjebak di Lobi-lobi Politik

Tapi kenyataannya, algoritma tetap rajin menyodorkan video-video “motivasi” dari kreator dengan tulang selangka menonjol dan caption seperti “Don’t reward yourself with food. You’re not a dog.”

Itu belum termasuk tagar terselubung dan kode rahasia yang digunakan para kreator untuk menghindari banned, lho!

Ternyata mereka punya trick unik, mulai dari typo sengaja seperti “sk1nny” hingga penggunaan ironi yang alih-alih meredam dampak, tapi justru menyamarkan racun menjadi lelucon.

Baca Juga: Dapat Reduksi Tiket KAI 10 Persen, Mahasiswa dan Alumni 18 Universitas Ini Wajib Tahu Cara Mengaktifkannya!

Mallary Tenore Tarpley dari University of Texas, bahkan telah menyebut tren ini sebagai bentuk toxic wellness yang dikemas cantik, karena menggambarkan budaya yang mengagungkan kontrol makan ekstrem sebagai pencapaian spiritual.

Pun juga, menurut Shira Rosenbluth, pekerja sosial klinis dari Los Angeles, menyebutkan bahwa remaja yang mengikuti pola ini dapat mengalami kerusakan permanen; hilangnya massa tulang, gangguan hormonal, bahkan kemandulan.

Tidak hanya remaja, selebriti dan influencer dewasa pun memperkuat narasi ini melalui promosi diam-diam terhadap obat seperti Ozempic dan Mounjaro yang semula diciptakan untuk penderita diabetes yang kini berubah menjadi alat penurun berat badan instan versi elite Hollywood.

Nah, dengan 60% pengguna TikTok berasal dari Gen Z, banyak di antaranya baru memasuki masa pubertas, pertanyaan besarnya bukan lagi “apakah media sosial berbahaya?” melainkan: “seberapa besar pengaruh destruktifnya hari ini?

#SkinnyTok mengajarkan kita satu hal: di era algoritma, kehancuran bisa tampil menginspirasi.

Kalimat seperti ‘lapar itu kekuatan’ mungkin terdengar seperti semangat hidup, tapi sesungguhnya adalah pengingat bahwa kebohongan kini punya pencahayaan sinematik dan caption yang relatable.

Baca Juga: 31% Gen Z Pilih Tinggalkan Kuliah Berdasar Survei Deloitte 2025, Alasannya Mengejutkan!

Sebagai masyarakat, kita harus belajar membedakan antara gaya hidup sehat dan kultus malnutrisi. Dan mungkin, sudah saatnya kita memperlakukan FYP anak-anak kita seperti kita memperlakukan makanan mereka: harus sehat, bergizi, dan bebas racun tersembunyi. ***

REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]