Transhipment Terbesar di Asia, Singapura Belah Lautan Demi Pelabuhan Otomatis: Kapasitas 65 Juta TEUs!

inNalar. com – Singapura yang sudah dikenal dengan kehebatan teknologinya, kini semakin menujukkan ambisinya untuk mempertahankan predikat negara transhipment terbesar. 

Singapura membangun Tuas Mega Port, yaitu pelabuhan otomatis yang dirancang tidak hanya memperbesar kapasitas pelabuhan, tetapi juga mengubah cara dunia melihat logistik global.

Menjadi Pemimpin dalam Dunia Transhipment

Baca Juga: Patut Ditiru RI! Singapura Lawan Suhu Panas Lewat Penerapan Sains Dasar Pada Proyek Skala Nasional

Melansir dari YouTube Daftar Top, saat ini, Singapura sendiri sudah berhasil mengelola kapasitas angkut barang hingga 36 juta (TEUs Twenty-Foot Equivalent Units) per tahun. 

Kemudian pada 2040, target mega proyek ini selesai secara keseluruhan, akan menangani dua kali lipat dati jumlah tersebut, yaitu hingga 65 juta TEUs atau 20 juta TEUs per tahun. 

Pembangunannya terdiri dari empat tahapan, fase pertamanya sudah mulai beroperasi pada 2022 dan sudah menghabiskan dana sekitar 1,7 miliar USD atau sekitar Rp24 triliun. 

Baca Juga: Sabet Penghargaan WEPs Awards 2024, BRI Kian Cemerlang dalam Pemberdayaan Perempuan

Otomatisasi dan Kecanggihan Tuas Mega Port 

Dilansir dari berbagai sumber, Tuas Mega Port dirancang dengan teknologi mutakhir, mencakup kendaraan otomatis hingga proses pembangunan tanggul yang canggih.  

Pelabuhan ini akan dilengkapi armada kendaraan listrik tanpa pengemudi untuk mengangkut kontainer antara dermaga dan terminal.

Baca Juga: Gaet Hong Kong, Indonesia Bangun PLTS di Jawa Timur: Tingkat Reduksi Emisi Karbon 180 Ribu Ton per Tahun! 

Selain mempercepat proses logistik, kendaraan ini menghasilkan emisi karbon 25% lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional.  

Teknologi canggih lainnya adalah gantry crane otomatis yang dipasang di rel dan sepenuhnya digerakkan oleh listrik. 

Crane ini dilengkapi kamera dan sensor laser untuk memastikan presisi tinggi, sehingga operator hanya perlu mengawasi dari jarak jauh.  

Baca Juga: Dua Perusahaan BUMN Genggam Proyek Infrastruktur di Filipina, Nilai Kontraknya Capai Rp8,4 Triliun

Pada sisi reklamasi tanah, pelabuhan ini memanfaatkan alat keruk terbesar di dunia sehingga memungkinkan menciptakan daratan baru dengan cepat dan hemat biaya. 

Reklamasi Tanah Membelah Lautan

Pada berbagai sumber disebutkan bahwa untuk pembangunan ini, Singapura mengimpor tanah atau pasir dari negara tetanggganya. Termasuk dari Indonesia. 

Baca Juga: Uni Emirat Arab dan Yordania Satukan Laut Mati – Laut Merah dengan Mega Proyek Senilai 2,3 Miliar USD

Hal ini dilakukan karena pelabuhan ini dibangun di atas perairan, reklamasi tersebut menciptakan area seluas 1.337e hektar dan menjadikan proyek ini seolah “membelah lautan.” 

Untuk mendukung struktur pelabuhan, tanggul laut sepanjang 8,6 km dibangun menggunakan 222 caisson, yaitu balok beton besar dengan berat masing-masing 15.000 ton.  

Setiap caisson diproduksi dalam 21 hari di pabrik khusus dan dipindahkan ke lokasi menggunakan kapal.

Pemasangan dilakukan tanpa henti selama 24 jam dengan sistem kerja shift.  

Tuas Mega Port diproyeksikan menjadi pelabuhan peti kemas terbesar dan tercanggih di dunia, menggantikan pelabuhan-pelabuhan lama Singapura.

Seperti halnya pelabuhan Tanjong Pagar, Pasir Panjang, Keppel, dan Pulau Brani. 

Dengan inovasi ini, Singapura akan memperkuat posisinya sebagai pusat logistik global yang tak tertandingi. ***(Gita Yulia) 

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]