

inNalar.com – Kisah mengerikan Tragedi Kanjuran diungkap Abel Camara yang rasakan langsung situasi saat di ruang ganti.
Begitu mengerikan Tragedi Kanjuruhan hingga menyimpan duka yang sangat mendalam untuk seluruh masyarakat.
Pemain Arema FC, Abel Camara ikut jadi saksi Tragedi Kanjuruhan yang mengerikan saat Sabtu malam.
Baca Juga: Abel Camara Ceritakan Kisah Horor Tragedi Kanjuruhan, Akui Lihat Korban Meninggal di Depan Mata
Saat Tragedi Kanjuruhan terjadi, Abel Camara masih berada di ruang ganti bersama para pemain Arema FC lainnya.
Sisi mengerikan Tragedi Kanjuruhan juga terjadi di ruang ganti berdasarkan penuturan Abel Camera sebagaimana dikutip inNalar.com dari maisfutebol.
Abel Camara menuturkan jika awalnya dia bersama tim lainnya mencoba meminta maaf kepada suporter usai laga berakhir namun ada ketegangan.
“Ada ketegangan setelah kami kalah, kami pergi untuk meminta maaf kepada penggemar. Mereka mulai memanjat pagar, kami pergi ke ruang ganti,” tutur Abel.
Ketika memasuki ruang ganti pemain, Abel Camara mengatakan jika suara tembakan mulai terdengar.
“Sejak saat itu kami mulai mendengar tembakan, mendorong,” katanya.
Selain itu Abel Camara mengungkapkan jika ruang ganti kondisinya terisi oleh beberapa korban mulai yang terkena gas air mata hingga meninggal.
“Kami memiliki orang-orang di dalam ruang ganti yang terkena gas air mata dan meninggal tepat di depan kami. Kami memiliki sekitar tujuh atau delapan orang tewas di ruang ganti,” ungkapnya.
Bahkan untuk bisa meninggalkan stadion dirinya perlu menunggu kondisi kondusif cukup lama.
Baca Juga: dr Tirta Ikut Soroti Kerusuhan di Kanjuruhan, Singgung Kesalahan Penggunaan Gas Air Mata
“Kami harus tinggal di sana selama empat jam sebelum mereka berhasil mendorong semua orang menjauh,” tuturnya.
Di sisi lain saat hendak meninggalkan stadion terlihat ada darah dan pakaian korban di aula.
“Ketika kami pergi, ketika semuanya lebih tenang, ada darah, sepatu kets, pakaian di seluruh aula stadion,” ucapnya.
Lebih parahnya lagi, Abel mengatakan jika di luar stadion jauh lebih tidak kondusif dengan adanya mobil yang terbakar.
“Ketika kami meninggalkan stadion dengan bus, ada mobil sipil dan polisi yang terbakar, tetapi kami memiliki perjalanan yang mulus ke pusat pelatihan kami, kami mengambil mobil dan pulang,” katanya.
Terjadinya Tragedi Kanjuruhan harus menjadi evaluasi bersama untuk seluruh komponen penyelenggara olahraga di Indonesia. ***