

inNalar.com – Bulan Rajab merupakan bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. karena di dalam bulan tersebut ada peristiwa yang sangat bersejarah, yaitu Isra Miraj. Isra Miraj terjadi pada tanggal 27 Rajab, yaitu pada tahun ke-11 dari kenabian Nabi Muhammad
Isra Miraj menjadi peringatan hari besar dalam agama Islam, sehingga kedatangaannya disambut dengan suka cita oleh masyarakat. Isra Miraj menjelma mejadi wujud interaksi timbal balik antara Islam dengan budaya lokal.
Salah satu bentuk respon masyarakat tentang pelaksanaan Isra Miraj terhadap kondisi alam dan sosial budaya semacam itu adalah sejarah terbentuknya keberagaman yang terjadi pada masyarakat, yuk simak apa saja tradisi itu :
1. Peksi Buraq Keraton Yogyakarta
Untuk memperingati peristiwa Isra Miraj, Keraton Yogyakarta mengadakan upacara Peksi Buraq yang digelar sehari sebelum peristiwa Isra Miraj. Upacara ini dimaksudkan untuk memberi gambaran “buraq” yang ditunggangi oleh Nabi Muhammad saat berisra.
Buraq disimbolkan dengan tumpeng atau gunungan dua ekor burung jantan dan betina yang bertengger di pohon buah-buahan di taman surga. Burung buraq dibuat dari buah jeruk bali dan kulitnya. Pembuatan miniatur buraq ini dikerjakan oleh para kerabat dekat Sultan, khususnya kaum putri. Gunungan itu kemudian di arak menuju Masjid Gedhe Kauman, lalu diperebutkan masyarakat.
2. Pembacaan Hikmah oleh Leebi di Gorontalo
Pembacaan Hikmah dilaksanakan secara tradisional, pihak penyelenggara akan mempersiapkan peralatan berupa kemenyan api, bara api, kain putih untuk menutup kepala, sebuah meja kecil dilapisi dengan kain putih dan segelas air putih. Setelah peralatan tersebut siap, maka Leebi (imam) membacakan naskah Isra Miraj yang diletakkan di atas yang beralaskan kain putih.
Ketika naskah Isra Miraj tersebut akan dibaca, maka Leebi mengambil kain putih untuk menutup kepalanya yang bermakna bahwa perjalanan Rasulullah SAW menaiki buraq yang warnanya putih bagai salju dan menjaga rambutnya tidak berjatuhan dalam melaksanakan Isra Miraj.
3. Rajaban di Cirebon
Rajaban oleh masyarakat Cirebon dimaknai sebagai tradisi upacara dan ziarah ke makam Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan yang berada di Plangon, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Ziarah dilakukan sebagai bentuk penghargaan untuk dua tersebut.
Dikutip inNalar.com dari laman Portal Majalengka, usai berziarah, acara berikutnya yaitu dilanjutkan dengan tradisi membagikan nasi bogana kepada warga keraton, abdi dalem, kaum masjid, dan masyarakat. Nasi bogana umumnya berisi lauk pauk seperti kentang, telor, ayam, tempe, tahu, parutan kelapa, dan bumbu kuning yang dicampur menjadi satu.
4. Ambengan
Ambengan bisa ditemui di hampir semua daerah di Jawa, hanya saja setiap daerah mungkin memiliki penyebutan yang berbeda. Tradisi ini diawali dengan peletakan ambeng di halaman masjid untuk mengikuti pengajian.
Ada ukuran ambeng yang kecil dan menggunakan wadah cepon, ada pula ambengan berukuran besar dan menggunakan anyaman bambu.
Ada juga masyarakat yang membuat ambeng besertakan 5-10 ekor ayam dan kambing hidup dan pada puncak ambeng dilingkari dengan uang minimal satu juta rupiah. Setiap kepala keluarga membuat setidaknya 2 ambeng. Satu ditujukan untuk semua warga, satu lagi ditujukan untuk orang yang sengaja akan diberi.
Baca Juga: Dalil Peristiwa Isra Miraj dalam Al-Qur’an
5. Marhaba atau marhabaan
Marhabaan adalah sebuah tradisi yang hidup dikalangan masyarakat Sunda. Nama marhabaan ini, berasal dari bahasa arab yaitu berasal dari kata Marhaban, dalam tradisi ini biasanya dibacakan shalawat Ya Nabi salam ‘alaika ketika mahal al-qiyam.
Selain dilaksanakan pada bulan Rajab, tradisi marhabaan juga dilakukan untuk memperingati Maulid Nabi. Inti dari Marhabaan adalah dzikir-dzikir dan sholawat yang mengagungkan Rasulullah saw.
6. Nyadran Siwarak di Semarang
Acara ini dilaksanakan pada hari Minggu Pon di Bulan Rajab. Dilansir dari Budayajawa.id, tradisi Nyadran Siwarak dimaksudkan sebagai pengingat manusia akan ajalnya. Dalam tradisi itu, diadakan kerja bakti membersihkan kubur, tahlilan dan pengajian akbar.
Dalam penerapannya Nyadran Siwarak tidak hanya berisi do’a, namun juga ada pagelaran karnaval yang diisi dengan berbagai atraksi. Acara dilakukan dengan mengarak replika, atraksi itu diantaranya tari-tarian yang diiringi alunan musik tradisional lesung dan thek-thek. Ada juga pertunjukan drama kolosal Babad Kampung Siwarak.
7. Khatam Kitab Arjo di Temanggung
Ada hal unik yang dilakukan masyarakat desa Wonoboyo, kabupaten Temanggung dalam menyambut Isra Mi’raj, mereka melakukan khataman kitab yang dibacakan oleh dua kyai.
Selepas pembukaan dan pembacaan tahlil singkat, acara dilanjutkan dengan pembacaan kitab Arja atau Arjo, kitab berbahasa Jawa tulisan Arab pegon karangan KH Ahmad Rifai al-Jawi yang membabarkan kisah perjalanan Nabi Muhammad.
8. Nganggung di Bangka Selatan
Nganggung merupakan tradisi saling menukar dan mengantar makanan dari rumah masing-masing menggunakan dulang atau rantang. Makanan yang dibawa umumya berupa kue, buah-buahan atau nasi lengkap dengan lauk pauknya.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi