
inNalar.com – Menjadi satu-satunya di dunia, tradisi berburu paus terakhir yang masih lestari ternyata adanya di sebuah desa terpencil Nusa Tenggara Timur ini.
Kampung tersebut terletak di salah satu sudut daratan Pulau Lembata yang luasnya mencakup 1.400 hektare.
Apakah Anda dapat menebak nama desanya? Sedikit klu, desa terpencil ini sempat menjadi sorotan global sebab fenomena unik tradisi semacam initidak lagi bisa ditemukan dari belahan daerah mana pun di dunia.
Baca Juga: AI Global Terbaru, Model AI China MiniMax-M1 Ungguli DeepSeek dengan Konsumsi Komputasi Lebih Rendah
Pada satu sisi, tradisi tersebut dinilai sangat istimewa, karena di dalamnya terdapat filosofi kuat yang diyakini oleh para penduduknya.
Kendati demikian, tidak jarang kearifan lokalnya menimbulkan prasangka bagi para Konservasionis mau pun Aktivis Lingkungan.
Faktanya, tradisi berburu paus di pulau terpencil NTT ini bukan tentang perburuan komersial.
Akan tetapi, budaya warisan ini bertautan erat dengan filosofi hidup para penduduk Desa Lamalera yang telah berabad-abad lamanya, menyatu dengan lautan.
Sebagaimana diketahui, tradisi berburu paus di desa terpencil Pulau Lembata telah ada sejak abad ke-17, melansir informasinya dari catatan Kebudayaan Kemdikbud.
Kekhasan warga Desa Lamalera saat berburu hewan besar ini ialah dari peralatan tradisional yang digunakan mereka.
Di antaranya seperti peledang (perahu layar tradisional), tempuling (tombak bambu yang fungsinya untuk menikam paus).
Lalu, sang Lamafa atau si Penikam akan beratraksi bersama sekumpulan matros (pendayung).
Namun perlu diketahui, budaya yang telah diwarisi sejak lama ini masih diizinkan di Indonesia selama hasil tangkapan dikonsumsi untuk makanan pribadi.
Artinya, hasil buruan para penduduk tidak digunakan untuk tujuan komersil. Namun yang terpenting adalah tidak semua jenis buruan paus dapat ditangkap.
Paus bunting, paus muda, dan paus kawin dapat dikatakan tidak boleh diburu oleh mereka.
Lebih tepatnya, hewan raksasa yang mereka buru adalah paus sperma. Sementara, paus biru tidak diburu karena konon masyarakatnya dahulu pernah diselamatkan oleh jenis hewan mamalia yang satu ini.
Baca Juga: Bank Dunia Tetapkan Kelas Kemiskinan Terbaru, Begini Nasib Warga RI Bergaji Rp1,51 Juta Per Bulan
Fakta menarik lainnya mengungkap bahwa penduduk asli Pulau Lembata, terkhusus yang tinggal di Desa Lamalera Nusa Tenggara Timur, ternyata diindikasi dulunya berasal dari Luwuk, Sulawesi Selatan.
Dikarenakan mereka menghindari serangan Majapahit, akhirnya orang-orang yang pindah inilah yang membangun komunitas suku di Pulau Lembata.
Sejak saat itulah, gaya pertahanan hidup mereka sebagai nelayan ialah dengan berburu paus di lautan sekitar Pulau Lembata.***