

inNalar.com – Tak dapat dipungkiri bahwa di masa lampau, Kota Jambi menjadi pusat pertumbuhan dan perkembangan agama Islam di Sumatera.
Terbukti kian banyak pusat peribadatan umat Islam seperti masjid mulai berdiri di tanah Jambi.
Salah satu yang menjadi bukti bersejarah keberadaan Islam sejak zaman dahulu ialah masjid terbesar di Provinsi Jambi yang satu ini.
Masjid terbesar di Provinsi Jambi ini berada tak jauh dari lokasi jembatan dan menara Gentala Arasy, destinasi wisata ikonik Bumi Melayu.
Tahukah bahwa masjid terbesar di Provinsi Jambi yang satu ini selain menjadi ikon kebanggaan warga Jambi, rupanya juga berdiri di atas lahan yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Bumi Melayu ini dalam menggempur kolonialis Belanda.
Masjid yang berdiri di atas lahan bersejarah ini namanya adalah Masjid Agung Al Falah.
Baca Juga: Masuk Top 1000 Sekolah Peraih UTBK Tertinggi, 3 SMA Ini Auto Jadi Sekolah Terbaik di Jambi?
Penamaan Al Falah pun memiliki makna filosofisnya tersendiri, mulai dari makna historis hingga makna kebahasaan yang tersimpan di balik kata berbahasa Arab tersebut.
Butuh waktu setidaknya 9 tahun lamanya hingga akhirnya Masjid terbesar di Provinsi Jambi ini bisa berdiri kokoh.
Masjid Seribu Tiang, begitulah julukannya, dibangun pada tahun 1971 dan selesai digarap pada tahun 1980.
Baca Juga: Di Balik Amalan pada Hari Asyura, Ada Kisah Pilu yang Terjadi Tanggal 10 Muharram
Tanah dimana Masjid Agung Al Falah ini tertajak ternyata menyimpan kisah pilu bagi perjalanan panjang Provinsi Jambi.
Kisah memilukan tersebut bermula ketika Sultan Thaha Syaifuddin menjabat sebagai Sultan bagi Kesultanan Jambi dengan tegas menghadapi kebijakan kolonialis Belanda yang kala itu dinilai olehnya tak menguntungkan bagi warga Jambi.
Perselisihan di antara kedua belah pihak pun mulai mengemuka, serangan demi serangan pun dilancarkan secara bergantian.
Meski akhirnya pada tahun 1885, kolonialis Belanda akhirnya berhasil menguasai tanah Jambi.
Namun, sejak kemerdekaan Indonesia hingga tahun 1970, tanah tersebut berhasil dikuasai kembali oleh rakyat Jambi.
Lalu, pada tahun 1961 para pemuka agama Islam membagikan ide mereka untuk membangun sebuah masjid besar yang berdiri di atas lahan bersejarah di Kota Jambi tersebut.
Adapun pelaksanaan pembangunannya akhirnya dapat terwujud pada tahun 1971 dan akhirnya diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharto pada tanggal 29 September 1980.
Penamaan Al Falah pada masjid ikonik di Kota Jambi ini berasal dari kosa kata bahasa Arab yang artinya ialah ‘kemenangan’.
Pemaknaan dari kata ‘kemenangan’ itu sendiri dapat merujuk pada peristiwa historis maupun makna filosofis kebahasaan dari sudut pandang keagamaannya.
Makna ‘Kemenangan’ dari nama Masjid Agung Al Falah, berdasarkan sudut pandang keagamaan, ialah berarti menang menaklukkan dirinya sendiri, hingga seorang muslim selalu berupaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan dalam dirinya.
Sementara makna ‘Kemenangan’ dari segi historisnya, yaitu merujuk pada peristiwa kekalahan warga Jambi dari kolonialis Belanda, tetapi kemudian tanah tersebut berhasil direbut kembali berkat perjuangan bersama dengan rakyat Jambi.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi