

inNalar.com – Pelabuhan adalah salah satu gerbang andalan perekonomian Indonesia, terutama bagi Sumatera Barat yang memiliki daerah Muara Padang dan Air Bangis sebagai sentra perdagangan internasional.
Tahukah bahwa pelabuhan tertua di Padang, Sumatera Barat bernama Teluk Bayur ini telah dibangun sejak zaman kolonial Belanda.
Catatan sejarah memperkirakan bahwa Pelabuhan Teluk Bayur di Padang, Sumatera Barat ini telah dibangun kolonial Belanda pada kisaran tahun 1888 -1893.
Baca Juga: Ditengah Pengeboman Israel, Sebanyak 50 Ribu Wanita Hamil di Gaza Kekurangan Pelayanan Kesehatan
Dahulu, dermaga ini sangat aktif digunakan kolonial Belanda pada saat Perang Dunia I dan II berkecamuk. Bahkan ada sumber yang menyebutkan bahwa dermaga ini telah aktif sejak 1780-an.
Oleh karena itu, tidak heran apabila dermaga ini disebut sebagai pelabuhan tertua kedua di Indonesia sebelum Sunda Kelapa di Jakarta Utara.
Dermaga ini sudah sejak dahulu digunakan sebagai jalur keluar – masuk barang ekspor dan impor yang masuk ke wilayah Sumatera Barat, serta aktivitas antar pulau di sekitar Padang.
Bahkan dahulu Pelabuhan Teluk Bayur ini menjadi jalur perdagangan internasional di beberapa negara yang berada di dekat area Samudera Hindia seperti Eropa dan Amerika.
Setidaknya hingga Perang Dunia II tiba, dermaga ini masuk ke dalam daftar lima gerbang laut tersibuk di Indonesia.
Bahkan, Pelabuhan di Padang ini juga menjadi yang terbesar kedua di Indonesia.
Baca Juga: Kopi Indonesia Semakin Populer di Internasional, BRI dan Pegadaian Dukung UMKM Kopi Go Global
Namun sayangnya tidak lama setelah itu, pintu laut ini kalah pamor dengan dermaga transit milik Singapura.
Akhirnya pelabuhan terbesar di Sumatera Barat ini lama kelamaan aktivitas ekonominya menurun.
Seiring berjalannya waktu dermaga ini semakin dilengkapi dengan peralatan penunjang yang modern sehingga dapat memberikan pelayanan terbaik terutama untuk kebutuhan angkut komoditas.
Melansir dari laman Pelindo IPC TPK, Pelabuhan Teluk Bayur di Padang, Sumatera Barat ini mampu melayani kebutuhan angkut komoditas yang meliputi semen, karet, minyak goreng, batu perlite, hingga cassiavera.
Adapun dermaga yang satu ini diketahui memiliki luas yang melega hingga 8.342 meter persegi, dengan badan panjangnya 345 meter persegi dan lebarnya 24 meter persegi.
Menakjubkannya, bagian area lapangan penumpukan atau yang biasa digunakan untuk menyimpan barang-barang yang bakal dimuat atau baru dibongkar luasnya mencapai 61.900 meter persegi.
Kini pelabuhan paling legendaris di Padang ini telah dilengkapi dengan peralatan canggih sebagai berikut.
Terdapat 4 unit Gantry Luffing Crane dan 3 unit Rebber Tired Gantry Crane yang berfungsi untuk mengangkat, memindahkan, dan menurunkan barang serta kontainer yang ada di dermaga tersebut.
Kemudian ada beberapa alat yang biasa digunakan pula untuk mengatur, menyusun, dan menggerakkan kontainer seperti 12 unit Head Truck, 2 unit Forklift, 2 unit Reach Stacker, dan 15 unit Chassis.
Perlu diketahui, dahulu dermaga ini belum bernama Teluk Bayur. Dahulu saat masih dikelola oleh kolonial Belanda, dermaga laut di Padang ini namanya diambil dari sosok Ibu Ratu Wilhelmina bernama Emma, sehingga dinamakan dengan Pelabuhan Emmahaven.***