

inNalar.com – Tak perlu jauh-jauh mengitari dunia, Indonesia lebih memiliki segalanya.
Ungkapan itu dirasa cocok untuk Indonesia yang kaya akan keberagaman dan kekayaan alam.
Berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, desa ini bisa dijuluki sebagai salah satu desa tertinggi di Indonesia.
Baca Juga: Jembatan Lintas Khatulistiwa Pertama di Indonesia akan Dibangun di Pontianak? tapi ….
Inilah Wae Rebo, desa sederhana yang terletak di dusun terpencil Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Dengan ketinggian Wae Rebo, desa ini lebih pantas dijuluki sebagai desa di atas awan.
Wae Rebo berada di tengah hutan pengunungan yang subur, dengan pesona budaya yang tidak dapat diungkapkan.
Baca Juga: Aneh dan Menarik, Kampung di Lamongan Ini Berjualan Pecel Lele tapi akan Dikutuk Jika Makan Lele
Untuk mengunjungi desa Wae Rebo, para wisatawan harus bersiap dengan perjalanan petualang yang menantang.
Terletak di Hulu Flores, perjalanan menuju desa wae Rebo memerlukan waktu beberapa hari, lho!
Wisatawan harus mengunjungi labuan bajo untuk yang pertama kali, kemudian melintasi jalan berliku yang terjal di dalam hutan tropis flores, dan mendaki gunung yang berbahaya.
Masih tertarik mengunjunginya?
Kendati Demikian, UNESCO menyatakan wae Rebo sebagai warisan budaya dunia sejak 2012 silam.
Tak tanggung-tanggung, Wae Rebo mengalahkan 42 negara lainnya. Wah keren ya?
UNESCO menyoroti sesuatu hal yang unik dari wae Rebo, yakni bentuk rumah adat mbaru niang.
Rumah adat ini memiliki 5 tingkat dengan ketinggian sekitar 15 meter dan berbentuk kerucut.
Yang lebih unik lagi, rumah adat mbaru niang hanya ada di wae Rebo, lho!
Bukan tanpa alasan, pembangunan 5 tingkat rumah adat mbaru niang memiliki nilai fungsi.
Tingkat pertama digunakan untuk tempat tinggal dan berkumpul, tingkat kedua untuk menyimpan bahan makanan, kemudian tingkat ketiga untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, tingkat keempat untuk stok pangan jika terjadi kekeringan, dan tingkat terakhir digunakan untuk tempat persembahan kepada leluhur.
Unik banget ya ternyata.
Tak heran jika UNESCO menyoroti Wae Rebo sebagai peninggalan warisan dunia. ***(Febi Komala Dewi)